Sinopsis : Rasa’y duduk sebangku dengan musuh bebuyutan tuh kayak marathon dikejar anjing pittbull, lalu dipaksa naik Tomado Dufan kemudian mendarat sempurna di kandang harimau kelaparan. Simpel’y sangat sangat sangat menyiksa.
Tom and Jerry. Seperti itulah Ristha dan Dion. Dua remaja putih abu2 yang terlahir tak pernah akur. Selalu saja ada keributan yang mewarnai hari mereka. Sejak pelajaran pertama dimulai hingga bel pulang terdengar, gendering perang terus ditabuh. Bagi mereka, hidup tanpa keributan itu bagai sayur tanpa garam.
Kini mereka dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kedua’y untuk kompak serta menjadi tim yang solid demi tugas kelompok Biologi.
“Diooon! Gue phobia banget sama kodok, pelase jangan paksa gue buat memvisum si kodok kupret itu.” Teriak Ristha di suatu sore yang mendung, di tengah hamparan sawah.
Kata orang, Tuhan selalu punya rencana indah untuk setiap makhluk’y. Entah, rencana indah macam apa yang Dia siapkan untuk dua remaja tengil itu.
Tom and Jerry. Seperti itulah Ristha dan Dion. Dua remaja putih abu2 yang terlahir tak pernah akur. Selalu saja ada keributan yang mewarnai hari mereka. Sejak pelajaran pertama dimulai hingga bel pulang terdengar, gendering perang terus ditabuh. Bagi mereka, hidup tanpa keributan itu bagai sayur tanpa garam.
Kini mereka dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kedua’y untuk kompak serta menjadi tim yang solid demi tugas kelompok Biologi.
“Diooon! Gue phobia banget sama kodok, pelase jangan paksa gue buat memvisum si kodok kupret itu.” Teriak Ristha di suatu sore yang mendung, di tengah hamparan sawah.
Kata orang, Tuhan selalu punya rencana indah untuk setiap makhluk’y. Entah, rencana indah macam apa yang Dia siapkan untuk dua remaja tengil itu.
Cerita
“Ristha, Dhion, kalian duduk sebangku.” Kata bu Asti.
“Huh! Mimpi apa gue semalem sampai duduk sebelahan sama elo, Alien jelekkkk.” Kata gue.
Ini merupakan hari pertama gue duduk di bangku kelas 2 SMA. Sebenar’y gue sama Dion udah pernah sekelas sebelum’y, dan nggak pernah tuh terjadi pertengkaran.
“Hahaha bego! Elo pikir gue seneng bisa duduk sebelahan sama orang yang nyebelin kayak elo? Najis gue! Dasar monyet baweeel!!!” Dion membalas dampratan gue.
“Idih liat muka elo aja merupakan sebuah kutukan bagi gue apalagi sekarang mesti duduk sebelahan sama elo, serasa kiamat semakin dekat!” balas gue.
“Ngaca dong! Lo pikir elo siapa? Gue kasih tahu nih ya, kalo dibandingin antara tembok sama muka lo, masih bagusan tembok tau!” balas’y nggak mau kalah.
“Sialan! Kayak muka lo bagus aja. Sini lo, gue tonjok muka jelek lo biar makin remuk!” spontan gue nyerocos.
Kali ini Dion nggak ngebalas dan memilih pergi. Temen2 yang pagi ini melihat tingkah kami seperti menonton teater yang pagi ini melihat tingkah kami. Muka gue memerah.
Akhir’y gue memilih keluar kelas ketimbang diamuk massa gara2 bikin onar pagi2. Tujuan gue adalah kantin.
Gue semakin yakin ini pasti hari sial gue. Di kantin ini gue ketemu si Alien cacingan lagi.
“Ya Tuhan, kenapa gue mesti ketemu sama monyet bawel lagi? Nggak bosen dan puas2’y dia ngikutin gue.” Ucap Dion dengan nada frustasi.
Sialan! Maksud’y ngatain gue, nih?
Gue masih di posisi semula. Di depan pintu kantin.
Dion melirik gue. “Ngapain, lo? Mau minta maaf sama atas kesalahan lo pagi ini, ya?”
“Wih syahdu amat lo ngatain gue mau minta maaf. Sorry ya tujuh turunan nggak bakal gue minta maaf sama elo.” Gue membela diri.
“Terus ngapain lo ngikutin gue sampe di kantin segala?”
Pertanyaan bodoh!
“Idih, hellooo siapa sih lo pake acara ngatur2 gue. Terserah gue dong mau ke mana kek, mau makan di mana kek, itu bukan urusan lo. Lagi pula kantin ini bukan tempat pribadi elo. Ini tempat umum. Sebaik’y elo nggak usah ngomong lagi, deh! Oh iya, satu lagi, gue NGGAK niat tuh minta maaf sama elo. Ogah gue. Mending elo sekarang duduk yang manis dan diem aja karena ngeliat lo aja udah bikin gue hilang selera apalagi harus dengerin ocehan lo yang nggak mutu bin bikin enek itu. Hueek!!”
Aneh, bukan’y membalas ocehan gue, Dion malah ngeloyor pergi.
Gue melihat sekeliling. Bener aja, semua mata yang ada di kantin melihat ke arah gue. Muka gue merah kayak tomat.
“Bang, soto sama the anget’y satu.”
Nggak berapa lama pesanan gue dating.
“Ini, Neng pesanan’y.” si Abang nganter pesanan gue.
“Makasih, Bang.” Balas gue.
“Neng, kok pagi2 udah berantem sama cowok’y?”
“Nggak kok, Bang, dia bukan cowok gue.” Jawab gue salah tingkah.
“Ah si Eneng, pacar kok nggak diakuin. Biasa’y emang gitu kalo udah berantem, tapi nanti kalo udah baikan pasti juga mesra lagi.”
Nih tukang soto sotoy amat sih.
Gue Cuma bales pake senyuman maut.
***
Pelajaran pertama dimulai.
Dengan males2an gue duduk di bangku gue.
Melihat wajah tak bersahabat gue, dia tersenyum sinis.
“Apaan lo, senyum2!” hardik gue.
“Idih siapa yang senyum sama elo?! GR banget!” elak’y.
Pake acara nggak ngaku segala. Jelas2 dia tersenyum. Gue aja liat kok.
Kali ini gue mengalah dan memilih diam. Sepanjang pelajaran berlangsung, gue nggak ngomong apapun sama dia.
Gue mendengar bisik2 teman cewek d belakang gue. Ngapain juga mereka mengelu-elukan Dion dan mencibir sirik ke gue gara2 duduk bareng idola mereka.
Gue mengayuh sepeda pinky gue dengan santai.
Di tengah jalan gue bertemu si Alien itu lagi. Walhasil gue balapan sama dia. Dion semakin mempercepat kayuhan’y.
Yang gue lakukan justru memperlambat laju sepeda seperti semula.
Noh, balapan aja sendiri sana! Umpat gue dalam hati.
“Kenapa berhenti balapan’y?” tanya’y mensejajari sepeda gue.
Gue hanya melengos cuek.
“Hei! Gue ngomong sama elo! Atau jangan2 sekarang elo mendadak tuli?”
Gue berhenti mengayuh. Gue tatap kedua bola mata’y tajam. “Berhenti buntuti gue!” teriak gue kasar.
Dion menghentikan kayuhan’y kemudian tertawa keras.
Sinting! Batin gue.
“Maka;y jadi cewek jangan kege-eran!” Dion tertawa lagi. “Yang buntuti elo tuh, siapa? Ini adalah arah gue pulang. Jalan ke rumah gue! Hahahahha!”
Sontak muka gue merah. Gue lupa rumah kami memang searah. Bego3! Gue menyesal dalam hati.
***
Gue heran deh, bisa2’y gue itu kenal sial mulu.
Sebagai anak yang teladan gue selalu dating ke sekolah lebih siang. Sebagai anak yang rajin gue, mesti kerja bakti dulu bersihin sekolah.
Setelah kerja bakti, gue berjalan di tengah lapangan.
Di tengah perjalanan, gue melihat anak kelas 3 lagi main sepak bola di lapangan. Tiba2 saja bola itu meluncur ke muka gue.
Sampe di sini gue nggak tau apa2 lagi. Waktu gue bangun gue udah ada di UKS. Gue nggak tau siapa yang nimpuk gue, nggak tau siapa yang bawa gue ke UKS.
Gue Cuma ingin mengucapkan terima kasih buat yang udah rela menggendong badan gue.
Setelah nyawa gue pulih, gue balik ke kelas.
Musibah ketimpuk bola ini udah nyebar ke seantero sekolah. Yaahh secara gue artis di sekolah kali ya… Huek!
Sampe di kelas gue ditatap ratusan pasang mata.
Gue melirik ke bangku di samping gue. Kosong.
“Tha, elo nggak kenapa-napa, kan?” tanya Selly nyamperin gue.
Gue cuman jawab dengan gelengan.
“Elo udah baikan sama Dion?” tanya’y lagi.
Kali ini bikin gue shock berat.
“Emmm, baikan?” gue balik tanya.
“Iya baikan, Oon!”
“Baikan dari hongkong, nggak lah.Ngapin juga baikan dengan dia, nggak ada untung’y buat gue!” “Halahhh bohong banget sih.”
“Iihh nih anak dibilangin nggak percaya!”
Minta direbus nih! Batin gue.
“Nah, terus tadi yang nolongin elo waktu pingsan kena bola siapa?”
“Maksud, lo? Tunggu2.. jangan bilang yang nolongin gue itu si Dion?”
Shelly malah cengesan sambil mengangguk.
“Ah elo ngaco nih, Shel…”
“Masa gue salah liat sih, anak2 yang lain juga pada liat kok. Tanya aja kalo nggak percaya. Dion sendiri yang nge-gendong lo ke UKS.”
“Hah??? Gendong???”
“Elo tuh bego’y kebangetan deh. Ya iyalah digendong masa digeret. Udah ah, ngomong sama elo bikin pusing. Ditanya apa, jawab’y apa!” Selly ninggalin gue yang masih bengong di tempat.
Dion si Alien jelek cacingan itu yang nolongin gue?
Aduh mesti gimana, nih? Bilang makasih, gengsi. Atau… pura2 nggak tau aja kali, ya.
Nggak lama Dion masuk. Dengan gaya’y yang cuek dia langsung duduk di kursi’y.
“Makasih.” Ucap gue pelan.
WHAT! Begooo kenapa ini mulut ensel’y malah lepas?! Ya Tuhan, semoga dia mendadak tuli.
“Emm, elo ngomong apa barusan?” tanya Dion sambil menatap gue.
Mampus lo, Tha. “Engg, anu… emm nggak ngomong apa2. Emang gue ngomong?” jawab gue gugup.
“Ooo…” jawab’y dengan mulut membulat seraya mengangguk-anggukan kepala.
***
Biologi adalah pelajaran favorit gue dari dulu. Gue selalu semangat saat ada praktikum Biologi. Terkecuali praktikum bedah kodok seperti saat ini.
Gue satu kelompok sama Dion. Kenapa satu kelompok harus berisi dua orang coba? Kenapa kelompok’y harus sama temen sebangku coba? Kenapa3?
“Ya biar nggak ribet dan lebih mudah aja ngatur’y kalo kelompok sama teman sebangu.” Begitu kata guru Biologiku.
Gue nggak bisa bayangin saat membedah hewan ijo berlendir itu. Ih! Menjijikkan.
Dion yang berada di samping gue tampak berpikir keras.
“Gue nggak mau tau, hari ini elo nemenin gue nyari kodok buat praktikum besoj.” Dion mengatakan’y dengan sangat tegas.
“Hah??? Ogah! Elo aja sono nyari sendiri, gue nggak mau!” gue ngotot menolak ide’y.
“Bodoh! Gue nggak mau peduli, Pokok’y elo harus ikut!” kata’y nggal kalah ngotot.
Nyesel banget sumpah! Gue nyesel satu kelompok sama si Alien itu
Sekitar jam tiga sore, Dion datang ke rumah gue.
Onta juga tuh anak, eh maksud’y on time.
“Kita mau nyari kodok ke mana, sih?” tanya gue.
“Yak ke sawahlah. Masa ke Mall!” jawab Dion pedes banget.
“Sawah? Kubangan becek dan berlumpur? Idih… yang benar aja gue nggak mau.” Jawab gue jijik.
“Buset deh nih bocah bawel banget. Mau nyari kodong aja ribet amat. Elo kira kodok kayak manusia bisa milih2 tempat tinggal? Ayo buruan tunggu apalagi entar keburu sore.”
“Eh! Se… sepeda gue bocor!” gue coba nyari alesan.
“Aduh alesan banget deh. Basi!”Dion narik tangan gue.
“Naik cepet!”
“Naik? Naik ke mana?” gue bingung.
“Oon! Naek onta!” Dion noyor kepala gue.
Sialan!
“Naik ke sepeda guelah. Kan elo yang bilang ban sepeda lo bocor. Cepetan deh!”
Dengan terpaksa gue naik juga. Nih alien sialan banget, sengaja nyari jalan yang berlubang-lubang. Pantat gue sakit. Dan Dion dengan hari riang gembira tertawa di atas rintihan sakit’y pantat gue!
“Woi… elo sengaja, ya! Nyari jalan’y yang bener, dong! Sakit tau pantat gue!” gue ngamuk.
“Ini juga udah bener tau! Susah deh satu kelompok sama cewek. Udah ribet, banyak omong lagi. Bisa diem nggak sih. Badan lo tuh berat tau, gue capek boncengin elo!”
Badan elo tuh yang cacingan. Umpat gue dalam hati.
“Rasain! Emang enak? Siapa suruh elo boncengin gue!” kata gue asal.
“Oke! Ya udah, elo jalan kaki aja! Turun gih, cepet!
Nih anak beneran nggak ya nyuruh gue jalan. Sawah’y masih jauh, pula. Batin gue.
Nih anak beneran berhenti mengayuh.
“Cepet turun! Tunggu apalagi! Dengan senang hati gue nurunin elo di sini.”
“Oke siapa takut!” tantang gue balik.
“Bagus deh kalo gitu. Elo tau kan sawah’y? Ya udah gue duluan, ya.” Dion mengayuh sepeda’y ninggalin gue.
Gue hampir nangis. Kelemahan gue Cuma satu, gue cengeng banget. Oke Ta, elo nggak boleh nangis.
Dion udah jauh ninggalin gue.
Akhir’y sejam kemudian gue sampai juga di sawah. Kaki gue pegal.
“Lho? Kok sepi? Ke mana tuh si Alien?” gue celingak-celinguk nyariin dia.
“Dion elo di mana?” panggil gue frustasi.
Wah jangan2 gue dikerjain lagi nih sama tuh Alien. Gue nangis.
“Diooon! Ggue phobia banget sama kodok, please jangan paksa gue biat memvisum si kodok kupret itu.” Teriak gue histeris.
Gue menatap langit yang mulai gelap. Benara saja nggak lama hujan pun turun dengan deras’y.
Dari kejauhan gue melihat seseorang menerobos lebat’y hujan.
“Dion!” pekik gue antara senang dan heran.
“Ya ampun, elo bego banget sih, Tha. Lo kurang kerjaan berlarian di tengah ujan gini?” Dion membentak gue.
“Ayo naik, buruan!”
“Lho, kita mau ke mana?” tanya gue seraya naik ke boncengan sepeda Dion.
“Udah, elo diem aja nggak usah banyak omong!” bentak’y.
Dion menghentikan sepeda’y di pos ronda di ujung jalan. Kamu berdua berteduh di dalam’y.
“Ngapain kita ke sini lagi sih, kenapa nggak pulang aja sekalian?” tanya gue polos.
Dion menjitak kepala gue. “Elo ini bego banget, sih. Udah tau ujan deres kayak gini masih aja ngotot pulang. Mau basah kuyup sampe rumah? Kalo sakit gimana?”
Dion nggak mau gue sakit? Nggak salah nih anak care sama gue.
“Tapi elo udah ninggalin gue. Ngapain elo balik lagi ke sini. Elo jahat, elo tega biarin gue tadi jalan kaki. Elo nggak punya perasaan.” Tanpa sadar gue nangis. Gue memalingkan muka dan membenamkan wajah di kedua lutut gue.
Gue merasa badan gue lebih hangat. Dion meluk gue?!
“Maaf bukan’y gue tega atau jahat sama elo, Tha. Elo’y aja tadi bikin gue kesel. Coba lo nurut apa kata gue dikit aja, gue nggak akan ninggalin elo kayak tadi sampe basah kuyup gini.” Bisik’y di telinga gue.
“Gue nggak mau elo sakit hanya gara2 kita nekat nerobos hujan. Gue akan merasa bersalah banget kalo itu bener terjadi.” Tambah’y.
Gue Cuma bisa diem nggak tau harus ngomong apa.
Akhir’y hujan pun berhenti, namun gue merasa nggak rela.
“Udah reda nih, pulang yuk. Udah gelap juga, gue pasti dimarahin.” Ajak gue lirih.
“Ya udah kita pulang.” Jawab’y.
“Trus kodok’y gimana?” tanya gue.
“Nggak usah mikirin kodok, itu urusan gue. Gampang. Sekarang kita pulang dulu keburu elo masuk angin.”
Gue cemberut, tapi hati gue tersenyum.
“Oke.” Balas gue.
“Maaf…” ucap’y lagi.
Sepanhang perjalanan pulang kami membisu.
“Huacimm…! Huachimmmm…!”
Sialan, gue flu berat nih. Nyiksa banget.
“Tha, sarapan dulu. Terus minum obat’y. Entar tambah parah flu’y.” kata nyokap.
“Ya, Mah.” Sahut gue.
Gue pun ke bawah untuk sarapan bareng bokap-nyokap.
“Pah, mah, Ristha berangkat dulu, ya.” Pamit gue setelah sarapan.
“Lho, kok sarapan’y nggak diabisin?” tanya Papa.
“Nggak, Pah, lagi nggak selera.”
“Kalo sakit nggak usah sekolag aja, nanti Papa telepon sekolah kamu.” Kata Papa.
“Emmm… nggak kok, Pa. Aku nggak apa2, kok. Berangkat dulu, ya.” Gue pamit sambil nyium bokap-nyokap.
Sesampai’y di halaman sekolah, bersin gue semakin menjadi.
“Hachimm.”
Gue sadar itu bukan bersin gue. Refleks gue menoleh ke sekeliling. Dion? Seperti’y si Alien juga terkena flu.
Dalam hati gue tersenyum senang.
Gue jalan menuju kelas. Dion ada di belakang gue.
“Wah, kalian berdua memang kompak banget ya. Flu aja sampe barengan gitu. Bener2 serasi.” Ejek teman gue.
“Eh! Mata lo bermasalah? Ngatain gue serasi. Gue bilangin, nggak dan nggak akan ikhlas gue disama-samain sama dia.” Gue nunjuk muka’y Dion.
“Elo tuh ya, Tha, muka pucet gitu, masih aja nyimpen tenaga buat berantem sama gue.” Kata Dion geleng2 kepala.
“Iya, nggak ngerti gue. Hyperactive banget jadi orang. Pecicilan. Nggak bisa diem, bawel lagi. Sakit kayak gitu sempet2’y marah2. Dion tuh sampe kehabisan ide ngeladenin elo.” Temen gue nambahin.
Gue geram banget. Apalagi liat muka Dion yang senyum2 penuh kemenangan.
Gue duduk di bangku gue. Masih dengan bersin2. Sementara Dion abis naruh tas’y lalu kabur entah ke mana.
Eh apaan tuh di laci Dion? Gue intip aja, deh.
“AAAAAA!” gue menjerit.
Temen2 pun berdatangan menuju TKP. “Kenapa Tha, kok teriak2?” tanya salah seorang teman gue.
Gue nggak menjawab. Muka gue pucat pasi. Di paha gue terletak sebuah toples berisi makhluk trekutuk itu.
“KWOK… KWOK…!” si kupret ngeluarin suara horor’y.
“HUAAAAAAAA.. HUAAAAA…!” gue menjerit lagi. Gue lempar tuh kodok sialan. Gue lari entah ke mana nabrak sana nabrak sini.
“Gila juga tuh anak. Dia pikir lagi di hutan teriak2 ala tarsan gitu. Woiii ini kelas tau!” kata teman gue.
BRUKKKK!
Gue nabrak seseorang di depan pintu kelas.
“DION!”
Tubuh indah gue mendarat tepat di atas tubuh Dion.
Gue membelalak.
“HUAAAAA…” teriakan gue semakin menjadi-jadi.
Seketika itu pula tangan gede nan kasar Dion nemplok di mulut gue.
Sumpah gue malu banget.
Ini sebuah kebodohan yang memalukan.
Arggghhh… gue pengen amnesia untuk kejadian ini.
***
Hari ini gue mesti siap2 mengerjakan sesuatu yang gue benci. Visum Kodok.
Semoga Dion mau memvisum sendirian.
Saat yang menegangkan pun tiba.
“Sekarang, keluarkan bahan percobaan kalian.” Bu Indah memulai praktikum pagi itu.
Dion mengeluarkan toples bening dari dalam plastik.
“Siapkan alat visum yang sudah tersedia dan mulailah membedah. Setelah itu catat sesuai petunjuk di buku.” Bu Indah memberi intruksi.
Gue jaga jarak.
“Tha, ngapain kamu di situ?” tanya Bu Indah.
“Anu Bu… anu…” gue gagap mendadak.
“Anu… anu… cepet sini, bantu Dion. Kamu mau ibu kurangin nilai praktikum’y karena nggak bekerja sama dengan baik?!” Bu Indah mulai emosi.
“I… iya, Bu.” Gue tambah gugup.
Gue berjalan di belakang Dion.
“Elo ngapain di belakang gue, sini bantu gue. Jangan biasa’y liat doing.” Kata Dion.
“Takut, Dodol!” bentak gue.
“Gue bilangin Bu Indah baru tau rasa, lo.” Ancam’y.
“Iiihh ngancem doing lo berani’y!” ledek gue.
“Beneran elo nggak mau? Bu…”
“Iya… iya… gue mesti ngapain, nih?” gue nyerah.
“Nih pake dulu Lab Gloves’y.” Dion mengulurkan’y ke gue.
Pas gue mau ngambil gunting bedah, tiba2 tangan gue gemetar.
“Dion.” Panggil gue.
“Emmm, apalagi?!” jawab’y ketus.
“Please… gue mohon banget. Gue nggak usah visum kodok ya. Gue beneran takut nih. Sumpah!” gue memelas.
“Nggak bisa Tha, entar lo bakal dimarahain Bu Indah.” Jawab’y enteng.
“Dion baik……” gue memohon lagi.
“Permohonan ditolak!” jawab’y singkat.
“Tapi…”
“Nggak ada tapi…”
Dion nggak meneruskan ucapan’y setelah melihat gue. Mata kami saling menatap.
“Elo nggak usah pake acting deh di depan gue!”
Gue nggak jawab.
“Bu, saya izin ke toilet.” Pamit gue.
Sesampai’y di toilet. Gue menangis sesenggukan di dalam toilet.
Buru2 gue menghapus air mata dengan mencuci muka gue.
Gue berniat untuk kembali ke laboratorium, namun langkah gue terhenti di depan pintu toilet saat melihat sosok yang familiar udah berdiri di depan gue.
“Elo… Ngapain?” Gue mendadaj gagap. “Bukan’y toilet cowok di sana?” gue nunjuk kea rah toilet cowok. “Elo nggak bermaksud ngintip gue, kan?” tuduh gue asal.
“Ya nggaklah, fitnah banget. Gue ke sini mau ngasih tau elo. Elo nggak usah memvisum kodok, biar gue aja. Elo tonggal nyatet hasil’y. Entar kalo ditanya Bu Indah, bilang aja tadi udah bantuin gue. Kalo ditanya cara2’y, elo ikutin ini aja.” Dion meyodorkan selembar kertas yang berisi coretan alur kerja ke gue.
Gue bengong menatap lembaran itu.
Tumben nih anak baik sama gue. Jangan2 ada mau’y lagi.
“Elo jangan mikir yang aneh2 sama kebaikan gue. Gue kasian liat elo mau nangis tadi. Entar gue dikira ngapa-ngapain elo lagi.”
Gue balik ke kelas dengan wajah sumringah.
Setelah selesai nyatet dan mengumpulkan hasil’y ke Bu Indah, gue pun bisa bernapas dengan lega.
Jam istirahat pun berbunyi. Gue milh balik ke kelas. Ini semua gara2 flu.
Sesampai’y di kelas gue langsng duduk dan ngerebahin kepala gue yang pusing di meja. Gue nangis lagi. Gara2 nggak tahan dengan sakit’y kepala gue.
Akhir’y gue minta izin ke guru piket untuk pulang lebih awal.
“Kamu beneran mau pulang, Tha?” Bu Siska kahawatir liat kondisi gue yang pucat.
“Iya, Bu.” Jawab gue lesu.
“Tapi bukan’y kamu bawa sepeda sendirian, nanti kalau kenapa2 di jalan gimana? Lebih baik istirahat di UKS saja dulu.”
Ng… nggak usah, Bu, sa… ya ku… a…”
BRUK…!
Gara* gue pingsan di sekolah kemaren, hari ini gue nggak masuk sekolah. Gue jadi kesepian di rumah. Bokap-nyokap pada kerja.
Coba kalo di sekolah, gue bisa berantem sama si Alien jelek cacingan.
Hah? Kok bisa*’y sih gue mikirin dia.
Mending gue jalan* di sekitar kompleks aja.
Gue mengayuh sepeda mengelilini kompleks dengan santai.
Setelah capek muter*, gue istirahat di taman kompleks.
Gue rebahan di atas hijau’y rumput di bawah pohon yang rindang. Seandai’y aja Erwin nggak pergi, dia pasti menemaniku di sini. Ahhh Erwin…
***
“Ristha, acara’y dimulai sekarang, ya.” Bujuk Mama.
“Entar dulu, Mah, Erwin belum dating.”
“Siapa tau dia telat, Tha, kasihan temen*mu yang lain udah pada nunggu, tuh.”
Akhir’y ualng tahun ke-17 gue rayain tanpa kehadiran Erwin.
“Win, elo kok jahat banget sih, elo kok nggak dating ke ulah gue?! Elo kan udah janji sama gue, Win! Elo ingkar janji!” amuk gue ke Erwin di telepon setelah acara selesai.
“Ristha sayang, jangan marah gitu dong, gue bukan’y ingkar janji tapi gue lagi ada urusan.” Erwin mencoba untuk ngejelasin.
“Segitu pentingkah urusan itu sampai elo menomor duakan gue, sahabat lo ini?” rengek gue.
Erwin ada;ah sahabat gue dari kecil, yang selalu ada buat gue, tapi sekarang dia justru nggak dating ke acara penting gue.
Setelah puas marah* di telepon, gue menghempaskan tubuh gue ke kasur.
Gue tau waktu udah menunjukkan pukul 9 malam, tapi gue pengen ke taman kompleks mala mini juga.
Gue pergi ke taman sendiri.
***
Di bawah taburan bintang, gue merebahkan badan memandang langit.
“Bintang… hari ini gue kecewa banget sama Erwin. Dia nggak nepatin janji’y. Gue kesel, Bintang. Elo denger gue, kan?” Gue teriak* di tengah taman.
“Gue…”
“Iyaa, gue denger kok.”
Sebuah suara yang nggak asing memotong ucapan gue. Tiba* lampu taman berubah jadi kerlap-kerlip berwarna.
“Erwin!” pekik gue.
Erwin datang membawa sebuah kue tart dengan angka 17 di atas’y.
“Elo?” wajah gue bengong.
“Gue nggak lupa sama janji gue, kan? Gue dating sebagai tamu istimewa lo mala mini.”
“Jadi ini semua…”
“Yups, betul gue ang ngerencanain ini semua. Spesial buat elo. Happy Birthday, Ristha sayang.”
Gue langsung memeluk Erwin. “Elo ngerjain gue, ya? Elo jahat, Win.”gue nangis.
Malam itu adalah malam terindah dalam hidup gue. Setelah meniup lilin dan make a wish, gue and Erwin rebahan di rumput sambil memandangi bintang*.
“Entar kalo udah lulus SMP mau masuk sekolah mana, Win?” tanya gue.
“Sekolah di mana elo masuk dong, Tha.” Jawab’y.
Gue seneng banget denger’y.
“Bener, ya awas elo bohongin gue.” Ancam gue.
“Iya gue janji.” Erwin ngeyakinin gue.
“Janji.”
Gue dan Erwin mengikat janji dengan mengaitkan kelingking kami.
“Tha…” ucap Erwin lembut.
“Emmm… kenapa?” tanya gue.
“Gue sayang sama elo.” Ucap’y.
“Gue juga sayang sama elo, Win.” Balas gue.
“Maaf sebelum’y.” tambah’y lagi.
“Maaf buat apa?” tanya gue heran.
“Maaf jika rasa sayang ini mengharapkan lebih dari seorang sahabat.”
“Maksud’y?” gue nggak ngert.
“Gue oengen elo jadi pacar gue, bukan cuman jadi sahabat, Tha.” Lanjut’y.
“Elo… nggak bercanda kan, Win?” tanya gue nggak percaya.
“Nggak, Tha. Gue serius. Gue mau elo jadi milik gue selama’y.”
Erwin megang erat tangan gue.
“Gue sengaja nunggu saat elo ultah yang ke-17 buat ngutarain semua ini. Gue mau di hari yang special ini elo jadi orang jang special di hidup gue. Gue nggak mau kehilangan elo, Tha. Elo mau kan jadi pacar gue?” tanya’y.
Gue mau, tapi…
“Tapi Win, akankah rasa ini tetap sama kalo elo sama gue bukan jadi sahabat lagi tapi pacar?”
“Rasa ini akan tetap sama, Tha. Bahkan akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih indah.”
Gue luluh dengan semua ucapan Erwin. Sebenar’y gue juga ngerasain hal yang sama seperti Erwin rasa.
Di malam yang indah itu gue resmi menjadi pacar Erwin.
Dia ngasih gue sebuah cincin. Dia bilang cincin ini berpasangan. Satu dia kasig ke gue, satu’y lagi dia pake. Romantis sekali.
Canda dan tawa selalu bergantian menghiasi hari* gue.
***
“ERWIN AWASSS…!” teriak gue panik.
BRUKK!!!!
Badan Erwin terpental setelah mobil kijang menabrak tubuh’y. Mobil itu kabur begitu saja setelah menabrak Erwin.
“ERWIN BANGUNNNNNN…!”
Nggak lama mobil ambulance dating. Gue ikut di dalam ambulance itu. Sesampai’y di sana, suster datang dan segera membawa Erwin ke ruang ICU.
Orangtua Erwin dating dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Tante… Erwin, Tan…”
Gue menghambur ke Mama’y Erwin.
Dokter pun keluar setelah kamu menunggu dengan cemas.
“Gimana keadaan anak kami, Dok?” tanya Mama Erwin khawatir.
“Anak ibu mengalami pendarahan yang cukup serius. Kami akan menangani ini semampu kami. Ibu berdoa saja. Semoga tidak terjadi apa2. Hanya Tuhan yang bisa bantu kita, saya dan dokter yang lain hanya perantara. Tuhanlah yang menentukan semua’y.”
Gue menangis mendengar penjelasan dokter.
Erwin dinyatakan koma.
Malam itu gue nggak mau pulang ke rumah. “Tuhan jangan ambl Erwin dariku.”
“Tuhan, ini semua salahku. Andai saja Erwin nggak nyeberang jalan buat ngambilin bunga mawar pemberian’y karena kecerobohanku terjatuh di tengah jalan, mungkin ini semua nggak akan terjadi. Erwin please bangun… maafin aku…!”
Gue memegang erat tangan Erwin.
“Win, bangunlah untukku, aku tahu kamu pasti denger, kan?”
“Tha..”
Ya Win, kenapa?”
“Jika suatu saat aku udah nggak di samping kamu lagi, aku mau kamu tetap seperti Ristha yang aku kenal, Ristha yang selalu ceria. Kamu janji, kan?”
“Kok ngomong gitu sih. Kamu mau ke mana?”
“Mungkin aku nggak selama’y ada untuk kamu.”
“Tapi kamu udah janji Win, akan selalu ada buat aku. Kamu juga udah janji kan mau bareng satu SMA sama kamu.”
“Pokok’y kamu janji aja dulu, kalo nggak aku akan sedih nanti’y.”
“Iya aku janji, tapi kasih tau dulu kamu mau kemana?”
“Janji ya.”
“Iya.”
Kelingking kami saling mengait mengingkarkan janji. Seiring itu sinar terang datang. Erwin pergi bersama cahaya itu. Gue berteriak.
“Erwinnn… kamu mau ke mana??!! Erwin tunggu aku, aku mau ikut kamu…!”
Gue terbangun.
Mimpi itu? Apa maksud mimpi itu?
Jam menunjulkan pukul 03.00 dini hari. Handphone gue bordering. Nama Om Aryo tertera di layar handphone. Papa Erwin nelpon gue.
“Halo, Om?”
“Ristha, kamu yang sabar ya, Nak…” suara Papa Erwin terdengar lirih.
“Maksud’y, Om? Ristha nggak ngerti.”
“Erwin udah ninggalin kita semua.” Papah Erwin berusaha tegar.
“E… Erwin ninggalin kita?” suara gue terbata.
Bruk!
Handphone gue terjautuh.
“Tha… halo Tha… kamu nggak kenapa-napa, kan?” di ujung sana samar gue mendengar suara khawatir Papa Erwin.
Gue terduduk lemas. Gue nggak percaya.
Gue segera berlari ke kemar Mama, menangis dan berteriak seperti orang gila. Gue, Mama, Papa, segera menuju rumah sakit pagi itu juga.
Sesampai’y di rumah sakit, gue langsung berlari menuju kamar di mana Erwin dirawat. Di sana orangtua Erwin terlihat menangis bersamaan.
“Tante, Erwin?”
Mama Erwin terdiam. Beliau hanya menangis sambil menatap gue.
Gue masuk ke kamar Erwin. Di san ague melihat tubuh Erwin pucat dan kaku.
Gue meraba wajah’y. Dingin.
Tunhan, ini mimpi. Kan?
Gue memeluk tubuh Erwin. Erwin telah ninggalin gue untuk selama’y.
Gue menangis tanpa henti.
Gue mengguncang-guncang tubuh Erwin.
“Erwiiinn kamu jangan bercanda, deh? Bangun Win. AKu tau ini nggak bener. Kamu janji mau nemenin gue sampe kapan pun! Erwiinnn!”
Tubuh itu tetap tak bergerak.
Mama masuk dan memeluk gue.
“Nak, sabar…” mama menangis.
“Mah, Erwin kayak gini gara2 Ristha, Ma. Erwin marah sama Ristha maka’y dia pura2 nggak bangun. Ya kan, Ma? Marahin dia Ma, suruh bangun, jangan bercanda. Ristha nggak mau, Ma.”
“Ristha, dengar Mama, Sayang, Erwin udah nggak ada.”
“Nggak mungkin Ma, Erwin janji kok sama Rostha dia bakal bangun.”
Ternyata semua ini nyata. Aku duduk tersandar di samping ramjang di samoing tubuh kaku Erwin.
***
Gue tersadar lamunan gue terhadap Erwin. Setahun telah berlalu. Setahun di mana gue ngabisin waktu tanpa Erwin. Setahun di mana gue masih ngerasakan kalo Erwin masih ada. Hampir setiao minggu dalam setahun ini gue pergi ke makan Erwin.
Gue memejamkan mata. Cincin yang dia berikan buat gue nmasih melingkar di jari manis gue.
“Win, aku yakin sekarang kamu pasti udah bahagia di sana. Aku yakin kamu juga pasti sedang liat apa yang aku liat sekarang. Aku kangen sama senyum dan canda tawamu, Win. Seperti dulu.”
Tanpa terasa air mata gue jatuh, membasahi pipi.
“Elo cengeng juga ya.” Ucap suara yang nggak asing di telinga gue.
Sontak gue menoleh. “Ngapain lo di sini?”
Dion merebahkan badan’y di samping gue. Persis sama seperti posisi Erwin dulu saat dia masih ada.
“Lagi liat langit biru.” Jawab’y enteng.
“Maksud gue, sejak kapan elo di sini? Bukan’y ini masih jam sekolah? Bukan’y…” gue duduk dan nyerang dia dengan segudang pertanyaan. Tapi dia memotong ucapan gue.
“Aduh…. Sakit atau pun nggak, bawel’y nggak berhenti juga ternyata.” Kata’y sambil menutup telinga’y.
“Jawab, dong!” bentak gue.
“Lo sendiri ngapan di sini?” dia balik nayan gue.
“Ya… y ague di sini lagi santai aja.”
“Y ague juga lagi santai.” Jawab’y.
“Tapi kenapa di sini?”
“Terserah gue dong ini kan tempat umum.”
“Ya nggak bisa gitu dong, cari tempat lain sana gih jangan deket2 gue.” Usir gue.
“Galak amat. Sakit aja masih punya tenaga ekstra buat marah2.”
“Peduli apa lo! Elo bolos sekolah, kan?” tuduh gue.
“Hey, Neng nggak punya jam, ya? Ini udah jam 2 siang tau, udah waktu’y pulang sekolah kali.”
Jam 2 siang?
Deg!
“Hah udah jam 2? Gue harus pulang.” Buru2 gue bangun dan ngambil sepeda.
“Hey bawel! Tunggu gue, dong.” Teriak Dion.
Gue pasti dimarahin nyokap gara2 udah ke luar rumah. Mampus deh. Pikir gue
“Mah, Ristha berangkat sekolah dulu.” Pamit gue setelah sarapan bareng bokap nyokap.
“Ya, ati2 di jalan, saying.”
“Sip! Boss.”
Yes, gue akhir’y masuk sekolah lagi setelah menjalani masa karantina yang panjang.
Asyik… gue bakal kumpul sama temen2 lagi.
“Hey Bawel, senyum2 sendiri kayak orang gila.”
“Dion?” gue memekik heran dengan kehadiran’y.
“Eh dia diem, tumben amat sih. Lagi kesambet apa,lo?”
Cerewet. Batin gue.
“Elo tuh yang kesambet setan, kampret. Gue marah2 elo’y sewot, gue diem elo yang cerewet. Mau lo apa, sih?” amuk gue.
“Akhir’y.” jawab’y singkat.
Eh dia malah senyum2 sendiri.
Kami berdua sampai di sekolah dan disambut dengan senyuman aneh dari teman2.
“Nah ini dia sang pengacau dating.” Celetuk temen gue.
KAMPRET!
“Welcome Ristha si biang rusuh, kami semua merindukan suara bawel lo, Tha.”
SIALAN!!!
“Wih makin akur aja, nih?” tambah temen gue.
Akur?
Gue nengok ke belakang. Bibir gue manyun denger komentar temen gue.
Akur dari hongkong, muke lo tuh kayak singkong. Umpat gue dalam hati.
Gue duduk ke singgasana yang gue kangenin.
Pelajaran pertama berhasil gue lewati dengan berbagai macam gaya.’y.
Pelajaran selanjut’y adalah pelajaran olahraga.
Gue senang semua olahraga kecuali renang.
Basket. Gue seneng banget main basket.
Cewek2 di kelas pada berteriak histeris saat Dion lagi maen.
] Gue heran, kenapa juga harus histeris gitu.
Seperti hari ini. “Dion… Dion… love you… love you!” teriak anak2 cewek.
Hueksss…. Gue yang denger mau muntah.
“Ihhh kalian ini kuno amat sih, teriak2 gitu kayak liat apa aja. Biasa aja, kali.” Celetuk gue.
“Ah lo nggak liat si Dion keren banget gitu?” temen gue ngomong.
Gue jalan ke tengah lapangan. Tangan gue gatel mau dribel bola.
Kalo udah giliran cewek2 yang disuruh maen baskjet, pasti semua oada kabur. Heran banget gue.
Mending gue pilih maen bareng anak2 cowok aja, udah pasti asyik.
“Hei Do, maen bareng yuk!” ajak gue ke Edo.
“Ayo, siapa takut. Man by man nih. Eh salah man by girl maksud’y. Hehe… Just kidding.” Canda’y.
“Ah lo bacot deh, buruan gih.” Tantang gue.
“Jangan nangis ya kalo kalah.” Ejek’y.
“Sialan lo, gue pantang nangis, tau. Apalagi gara2 kalah maen basket.” Jawab gue sekena’y.
Dion yang ternyata dari tadi nyimak pembicaraan kami berdua mencibir sinis.
Gue sama Edo pun maen one by one. Tapi di tengah permainan Edo berhenti main gara2 di panggil sama cewek’y.
“Yon, gantiin gue maen gih. Kasian tuh Ristha nggak ada lawan yang seimbang.” Edo nyuruh Dion.
Gue nggak butuh maen sama dia jelekkkk!!!!
Gue tau Edo sengaja nyuruh Dion bukan yang lain. Oke siapa takut kita liay siapa yang bakal kalah. Batin gue.
“Berani nggak lo main sama gue?” tantang Diom.
“Lawan elo? Nggak salah nih, boleh. Elo mah kecil.” Bales gue.
“Oke kita mulai sekarang.”
“Oke!”
Anak2 cewek yang liat gue maen sama Dion kembali berteriak histeris.
Karena nggak mau kalah, anak2 yang cowok juga pada bikin paduan suara buat nyemangatin gue.
Skor masih seimbang 5-5. Di tengah permainan yang hot gue terjatuh gara2 nginjek tali sepatu gue yang lepas.
“Ahhhhh… Khyaaaa…!”
Huaaaaa….tangan sama lutut gue lecet.
Gue duduk sambil memegang tangan gue yang berdarah.
“Eeehhh lo mau bawa gue ke mana, Oon! Sialan… kampret… turunin gue. Aliennnn jelek cacingannn. Turunin guee sekarang juga!!!” amuk gue.
Gue berteriak kaget campur malu gara2 Dion gendong gue dan lebih parah’y lagi gue dalam keadaan sadar.
:Elo cerewet banget, berisik! Bisa diem nggak! Mau gue lempar, lo?!” Dion bentak gue.
Sesampai’y di UKS, Dion ngerebahin badan ggue di atas kasur.
“Hey pelan2 dong, elo nggal liat gue sekarat gini?” maki gue.
“Cerewet! Elo bias diem nggak, sih! Gue lagi bersihin luka lo, nih.” Ucap’y galak.
Gue pelototin aja tuh anak. Ehh… dia malah cekikikan liat muka gue. Sialan!
“Apa lo senyum2. Sableng! Nih rasain, ini buat kata2 asal lo yang udah bilang gue cewek elo. Sorry ya nggak akan!” kata gue sambil ngejitak kepala Dion.
“Lucu banget sih, lo.” Kata’y sambil tersenyum.
“Udah deh sana lo, jangan ngikutin gue. Jauh2 gih, Hush… Hush…!” kata gue seraya ngibasin tangan.
“Gue kan orang’y nggak tegaan. Apalagi sama cewek. Mana lagi luka gini kan, sini gue bantu jalan!” tangan’y ngerangkul bahu gue.
“Eittt… jangan pegang2. Singkirkan tangan elo?” bentak gue.
“Beneran nih bias sampe kelas? Yakin?”
“Bisa, siapa bilang nggak. Gue masih kuat jalan sendiri. Gue bias sampe kelas dalam keadaan selamat tanpa kurang satu pun.”
Gaya gue ngomong sok banget padahal tangan sama lutut gue terasa nyut2an.
“Oke, kalo gitu gue duluan. Selamat berjuang nyampe kelas, deh.” Kata’y sambil berlalu ninggalin gue.
“Sono gih duluan siapa juga yang nyuruh elo bareng gue. Yeeee, pede amat lo!” kata gue.
Fiuhhhh akhir’y sampe juga di kelas.
“Lama amat baru nyampe? Elo jalan apa ngesot?” ejek Dion waktu gue duduk.
Bibir gue manyun.
Ryan nyamperin gue.
“Tha, elo nggak kenapa-napa, kan?” tanya’y.
Gue Cuma nganggukin kepala sambil tersenyum kecil.
“Lo udah makan?” tanya’y lagi.
“Huum… belum.” Dengan wajah lugu gue ngejawab.
“Lo mau makan apa? Nanti gue bawain..”
“Nggak usah Yan, makasih, bentar lagi juga udah mau pulang sekolah, gue ,makan di rumah aja.” Kata gue nolak tawaran’y.
“Aduh kalian ini nggak usah pamer kemesraan di sini deh!” bentak Dion.
Kenapa sih nih anak kok malah bentak2 gini.Pikir gue.
“Apa2an sih lo Yon, sewot aja. Lagian nggak ganggu elo juga.” Kata gue.
“Lo berdua itu udah ganggu ketenangan gue!” tambah’y.
“Yee, dasar nggak jelas.” Ejek gue.
“Ya udah kalo gitu, gue balik dulu deh ke bangku gue, ada yang nggak senang dengan kehadiran gue di sini kayak’y.” sindir Ryan sambil ngelirik kea rah Dion.
Dion membuang muka. Aneh.
Ryan itu dulu pernah nembak gue, tapi gue tolak. Entah kenapa gue sulit untuk ngasih hati ini buat orang lain.
Seketika gue membelalak melihat sesuatu yang asing di keranjang sepeda gue. “Mawar?”
“Siapa yang naruh di sini?” gue ngeliat sekeliling. “Pak, ini mawar siapa, ya?” Tanya gue pada penjaga parker.
“Nggak tau, Neng.” Jawab’y.
“Bapak lihat siapa yang naruh di sini?” Tanya gue lagi.
“Nggak tuh, Neng, nggak liat.”
“Ya idah makasih, Pak.”
Ya udahlah, gue bawa pulang aja makasih aja buat yang ngasih. Batin gue.
Gue pulang pelan2 banget kayak siput. Nggak bias ngayuh sepeda cepat2 mengingat dan merasa lutut gue yang luka.
***
Gue bermandikan keringat. Capek banget. Akhir’y gue sampai juga.
“Ya ampun, Ristha kamu kenapa lagi kok tangan sama lututmu diperban gini?” Tanya nyokap khawatir.
“Jatuh, Ma.” Jawab gue.
“Jatuh di mana?” Tanya mama lagi.
“Di sekolah, Ma.” Jawab gue lemes.
“Kok bisa gimana cerita’y sih, Tha?”
“Jatuh waktu main basket, Mama.” Kata gue akhir’y.
“Ya ampun Risthaaaa… kamu ini ada2 aja deh. Anak cewek kok bandel gini. Masa anak cewek maen basket. Baket itu permainan anak cowok. Kamu itu nggak cocok maen kayak gitu, Ristha… bla…. Bla…. Bla…”
Udah gue tebak pasti diomelin.
Gue Cuma bias pasrah.
***
Setelah mendengarkan ceramah nyokap, gue balik ke kamar.
Dan sekarang mawar itu terpajang manis di meja belajar gue, pas disamping foto gue sama Erwin.
***
Luka di lutut dan tangan gue emang masih belum sembuh bener, tapi ini nggak menyurutkan niat gue untuk tetap sekolah.
Sesampai’y di sekolah, gue parker sepeda.
Kelas gue masih sepi saat gue sampe di sana.
“Pagi Nis.” Sapa gue saat melewati bangku Anis.
“Pagi Tha.” Balas’y sambil tersenyum.
Dion belum dating. Tumben amat.
Yahh… baru aja diomongin tuh makhluk nongol.
Dia duduk sambil kipas2 pake buku. Keringat jagung’y memenuhi kening.
BAU!
“Iiihhhh jorok nih, pagi2 udah keringetan!” kata gue.
“Wangi, kan?” kata’y kepedean.
“Polusi udara, lo!”
“Ah lo maubilang wangi aja pake malu!” kata’y lagi seraya lebih mendejatkan diri ke arah gue.
“Sialan! Hush…. Hush… hush, jauh2 gih, bau lo!” kata gue seraya mendorong tubuh’y.
“Hahaha…!” dia malah cengengesan.
“Elo abis ngapain sih pagi2 udah basah kuyup gitu? Lari marathon lo?” Tanya gue.
“Biasa… cowok. Basket gitu loh!” kata’y.
“Uuh. Dasar jorok. Pagi2 udah maen basket. Burket dehhh…” kata gue ngejek.
“Biarin, so what gitu loh…!” balas’y.
“Najong!”
“Au!” jerit gue waktu gue masukin task e laci meja.
Jari gue berdarah.
Dion kaget.
“Kenapa lo? Melengking gitu. Kayak kucing kejepit.” Kata’y ngejek. Gue.
Ada yang nusuk jari gue.
Mawar?
Mawar again? Berarti ini bukan orang iseng tapi emang ada yang sengaja ngasih mawar ini buat gue.
“Woi… elo kesambet ya? Tadi teriak. Sekarang bengong. Napa, lo?” tanya’y.
“Eh… anu… eng… nggak kenapa-napa.” Kata gue kaget.
“Emmm… kamu tau…”
Ah dia pasti nggak tau. Dia aja baru datang.
“Nggak, nggak jadi.” Kata gue lagi.
“Aneh.” Balas’y.
Gue nyamperin Anis.
“Nis, pagi tadi selain elo yang dating lebih awal siapa?” Tanya gue.
“Nggak ada cuman gue, abis itu elo.,” jawab’y.
“Yang bener, lo?” Tanya gue lagi.
“Beneran. Elo kan liat sendiri tadi kelas sepi cuman kita berdua yang baru dating. Abis itu Dion. Yak an?” jelas’y.
“Iya juga, sih.”
Sepulang sekolah nanti gue bermaksud mengunjungi makam Erwin.
Sepanjang jalan menuju makam Erwin gue teringat kembali saat kami bersama.
***
Sesampai’y di makam Erwin, gue mulai membersihkan rumput2 liar yang tumbuh di sana.
Setelah itu gue curhat, gue berbagi cerita sama Erwin.
Gue mengakhiri curcol gue sore itu seraya meletakkan buket mawar di atas makam Erwin.
Gue beliin nyokap mawar juga ah, jarang2 gue bias ngasih nyokap.” Pikir gue.
Gue balik lagi ke took bunga tempat gue beliin mawar buat Erwin.
Gue ketemu Dion di sana.
“Hey mau beli bunga juga, lo?” sapague dari belakang
“Eh elo… Bawel. Kirain siapa…” wajah’y mendadak panic melihat gue di sana.
“Beli bunga apa?” Tanya gue asalm
“Beli mawar. Elo mau beli bunga juga?” Tanya;y balik.
“Iya nih.” Jawab gue.
Tumben gue bias seakrab gini sama dia.
“Mau beli bunga apa?”
Banyak Tanya deh. “Emmm… kasih tau nggak ya…” canda gue.
“Hahaha… bias aja lo becanda’y, Tha.”
Saat ketawa gitu Dion jadi terlihat cakep.
“Hayooo… mau beli bunga buat siapa, tuh?” god ague.
“E… ng… nggak buat siapa2.” Kata’t terbata-bata. Wajah’y memerah.
“Buat cewek lo, ya? Ehem2…” god ague lagi.
“Nggaklah.” Jawab’y malu.
“Ah masa sih, beli’y kan mawar merah. Mawar merah itu tanda cinta. Masa bukan buat yang special.”
“Hmm… Tuh elo sendiri beli bunga buat siapa?” Tanya Dion mengalihkan pembicaraan.
“Buat siapa ya? Emm… buat siapa aja boleh.” Jawab gue asal.
Eh, dia malah manyun gue candain. Lucu deh wajah’y kalo cemberut.
“Gitu aja manyun.” Gue semakin menggoda’y.
“Siapa juga yang manyun?” kata’y mengelak.
“Gue beli buat nyokap.” Kata gue akhir’y.
“Nyokap lo ultah?” tanya’y.
“Nggak.” Jawab gue.
“Terus?”
“Ya nggak terus2. Gue aja yang pengen beliin nyokap.”
“Anak baik.” Kata’y seraya ngelus rambut gue.
Kontan saja wajah gue merona.
Gue nggak marah, gue malah tersenyum.
Setelah membayar bunga yang gue beli, gue segera pergi.
Tapi Dion tetap ngikutin gue.
“Hey… tunggu, bareng dong. Asal main tinggal aja.” Kata’y.
“Yeee, elo’y aja tuh yang lelet.” Ejek gue.
“Elo suka mawar?” tanya’y.
“Iya, suka banget.” Jawab gue.
“BTW, elo beda deh hari ini.”
“Beda? Beda kenapa?” Tanya gue.
“Ya beda aja. Nggak judes, bawel, rese, dan nyebelin kayak biasa’y.” jelas’y.
“Hahaha, gitu ya? Gue lagi males debat sama elo. Yang ada ngerusak suasana hati gue aja.” Jawab gue sambil tertawa.
Dion tersenyum.
Senyum’y manis banget. Mirip senyum Erwin.
“Bye.” Kata gue mengakhiri perbincangan.
Bye…” balas’y.
***
“Tha, aku mau kasih tau kamu.” Erwin membelai rambut gue.
“Kasih tau apa?” kata gue manja.
“Aku saying banget sama kamu.” Kata’y malu2.
“Cuma saying doing?” god ague.
“Sayang 50%, cinta 50%.”
“Dikit amat cuman 50%?” gue semakin menggoda’y.
“Mau’y berapa, dong?”
“Emmm, mau’y kayak rasa cinta dan saying aku ke kamu.”
“Emang rasa saying dan cinta kamu ke aku seberapa banyak, sih?” jawab’y balas menggoda
“Nggak ada bilangan jumlah’y berapa karena besar… besar…. Bangettt.” Kata gue sambil merentangkan tangan gue.
Dia tertawa. Manis banget
“Hahaha… kamu bias juga ya ngegombal, siapa sih yang ngajarin?” kata’y sambil mencubit pipi gue.
“Hahaha… yang ngajarin tuh yang nanya!” gue ikut tertawa.
“Hahaha… kapan ya aku ngajarin, perasaan nggak ada deh.”
“Kamu udah beribu-ribu kali ngegombal sih, maka’y jadi lupa. Dasar pikun.”
“Pikun2 gini, aku masih bias nginget satu nama.”
“Siapa?”
“Kamu dong, saying.”
Wajahku merona merah. Erwin mengecup kening gue. Gue meluk dia erat banget.
“Ristha… Ristha… kamu ini kenceng banget meluk’y. Udah ah lepasin, cepat bangun, sekolah!” Erwin ngelepasin tangan gue dari tubuh’y.
Gye langsung melek.
Ternyata gue mimpi.
Ternyata yang gue peluk itu guling.
MAMPUS, GUE BANUGU KESIANGAN!
Dan ternyata juga yang dari tadi manggil nama gue bukan Erwin tapi nyokap.
“Ristha, bangun… kamu nggak sekolah? Udah jam berapa ini?” Mama manggil gue lagi.
JAM?
JAM 06.15.
Dengan kecepatan kilat gue nyambar handuk dan langsung mandi.
Setelah semua’y siap, gue langsung turun dan menuju ruang makan.
“Mama gimana sih, kok nggak bangunin Ristha?” omel gue ke Mama.
“Yam au gimana lagi yang dibangunin kebo, sih.” Jawab Mama nyindir gue.
Papa malah ketawa puas.
Jam menunjukkan jam 06.40.
Dan akhir’y gue pergi sekolah bareng bokap, soal’y tinggal 20 menit lagi udah masuk!
Yah mau gimana lagi nama’y juga telat biar diburu gimana juga, mau pake mobil kek, gue tetap aja… apes.
Pintu gerbang sekolah udah ditutup.
Pak Urip udah nunggu di pos’y dengan pose yang nggak banget, wajah garang dan kumis tebal’y.
“Pak Urip… Pak Urip… bukain pager’y dong.” Kata gue merengek.
“Emmm… siapa ya?”
“Yeee… Pak Urip gitu deh.”
“Kamu telay.”
“Ya… Pak Urip gimana toh Pak, saya kan mau masuk.”
“Jadi?”
“Boleh masuk nggak sih, Pak?”
“Udah pulang aja. Tuh satpam nggak bakalan deh dengerin lo.”
Ada suara lain yang ikut nimbrung.
“Dion?!” pekik gue kaget.
“Elo kok di sini sih? Kengapa nggak di dalem? Ini kan udah jam’y masuk.” Gue terjang dia dengan berbagai pertanyaan.
‘Ya gue lat juga!” jawab’y.
“Tumben amat elo telat?”
“Nggak juga sih, udah pernah sebelum ini. Maka’y gue ngasih tau lo percuma kalo udah telat may ngomong kek, ngerengek kek, sampe jungkir balik juga di depan tuh satpam nggak bakalan dia gubris.” Dion ngejelasin ke gue.
“Tapi kok gitu?”
“Ya nggak tau.” Jawab Dion.
“yah, jadi gimana dong?”
“Ya udah pulang aja sono.” Dia mulai membalikkan sepeda’y mau pulang.
“Mau pulang ke mana juga. Masa ke rumah, yang ad ague diomelin nyokap. Hufffft!” gue menghela napas panjang dan duduk di trotoar.
Dion menyandarkan sepeda’y dan duduk di samping gue.
“Terus lo mau ke mana?” tanya’y.
Gue ngangkat bahu.
“Elo sendiri mau ke mana?” Tanya gue balik.
“Paling juga pulang ke rumah.”
“Emang’y nggak dimarahin?”
“Nggak lah rumah gue kan kosong pada kerja semua. Jadi mana tau gue sekolah apa nggak.”
“Kasihan…” jawab gue sekena’y.
“Ya nggak seperti yang lo bayangin juga. Elo mikir’y pasti gue nggak diperhatiin.”
“Nggak juga.” Jawab gue singkat.
“Elo nggak bawa sepeda?”
“Nggak. Gue bangun’y kesiangan, jadi gue piker kalo diantar pake mobil gue bakal nggak telat. Eh…. Ternyata sama aja.” Jawab gue lesu.
Dion ngejitak kepala gue.
“Oon banget sih lo!”
“Auuuwww… sakit tau!” gue balas nonjok lengan dia.
“Tenaga cowok, lo. Gue jadi ragu kalo lo ini bukan cewek tulen.” Kata’y.
“Enak aja, gini2 cewek bawaan dari orok tau.” Kata gue.
“Nggak yakin deh kayak’y.”
“Nggak percaya lo? Perlu bukti?”
Uppssst…. Gue salah omong.
Benar saja Dion melototin gue, tepat’y tubuh gue.
“Kampret lo! Nggak usah ngeliat segitu’y juga kali!” kata gue.
“Hahahaha…! Dia malah tertawa puas.
“Lagian elo ada2 aja!” kata’y lagi setelah tertawa.
“Dasar OMESSSS!” kata gue sambil ngejitak kepala’y.
“Jadi lo mau ke mana sekarang?” tanya’y lagi.
Gue Cuma bias geleng2 kepala lesu.
“Nggak tau juga nih. Masa gue mesti jalan kaki? Yang bener aja. Jauh gila…!”
“Ya udah, lo ikut gue aja.” Ajak’y.
“Ikut ke mana?”
“Ya jalan2 aja ke mana kek.” Usul’y.
“Pake apa?”
“Ngesot! Ya pake sepeda gue lah.”
“Sepeda lo?” gue malah balik Tanya.
“Nggak onta. Ya iya lah yang bawa sepeda kan cuman gue. Elo mah oon, pake dianter segala ya sama aja telat juga!” jawab’y mulai marah.
“Tapi….”
“Aduhhhh kebanyakan tapi’y. lo. Buruan naek gih, kalo enggak, gue tinggal nih!” kata’y ngancem.
“Ya… ya… gue naik. Sabar dikit napa?!”
“Pake jaket’y. Panas. Lagian entar ketauan orang2 kalo kita bolos.
Gue yang disuruh manut aja.
“Jadi kita mau ke mana nih. Masa nggak ada arah dan tujuan sama sekali?” gue Tanya lagi.
“Ya nggak tau. Muter2 aja dulu nyampe ketemu ide mau kemana.”
“Emang’y lo nggak capek apa boncengin gue.”
“Ya kalo capek tinggal gentian aja…. Elo yang boncengin gue!”
“Ogah gue boncengin elo!” balas gue.
Tiba2 perut gue bunyi.
“Hahahaha… bunyi apa tuh? Elo kentut atau apa?” kata’y ngejek gue.
Kontan wajah gue memerah.
“Gue belum sarapan. Nggak sempet tadi. Sorry.” Jelas gue malu.
“Hahahah…!” lagi2 dia tertawa.
“Ya udah kita cari tempat makan aja dulu, entar lo kena busung lapar, gue juga yang bakal repot.”
Akhir’y kami berdua nyari tempat makan terdekat.
“Elo mau makan apa?” Tanya Dion.
“Emmm apa ya? Perut lo mau makan apa?” Tanya gue bercanda.
“Hahaha… sumpah lo konyol banget, Tha!” seru Dion sambil tertawa.
“Makan nasi uduk aja, deh.” Kata gue akhir’y.
“Makan doing, nggak minum, nih?” tanya’y lagi.
“Minum lah, gila aja! Mati keselek gue. Es jeruk aja deh. Lo sendiri makan apa?”
“Oke kalo gitu. Mas nasi uduk dua, es jeruk’y dua.” Kata’y memesan makanan.
“Elo nggak mau yang lain? Kok nyamain gue makan’y?” Tanya gue.
“Nggak, ribet mesen’y.”
“Oh ya udah.
Nggak lama pesanan kami datang.
“Emmm… enyak2!” kata gue dengan lahap menyantap kudapan gue. Dion tersenyum liat tingkah gue.
“Santai aja makan’y. Entar keselek baru deh ngerasa.” Kata’y menasihati.
“Hahaha, gue laper banget sampe lupa kalo lagi makan bareng cowok. Sorry deh gue jadi malu2in gini.” Kata gue polos.
“Biasa aja kali. Lebih bagus gitu ketimbang pake jaim segala. Nggak banget deh.” Kata’y lagi.
“Emmm… akhir’y kenyang juga!” kata gue menyudahi makan gue.
“Udah? Nggak mau nambha lagi?” tanya’y.
“Nggaklah, gila aja nambah. Udah kenyang gini, Nih liat perut gue, yang ada orang2 entar nyangka gue kena busung laper lagi!” kata gue
“Mau rasa apa?” Tanya gue sok2an.
“Vanilla chocochips.” Jawab’y.
“Mas vanilla chocochips’y dua ya.” Kata gue.
“Nih mbak, ice cream’y.” kata mas yang ngejual.
Gue tersenyum ke arah Dion.
“Nih ice cream lo. Makan aja nggak usah sungkan2. Gue ikhlas kok traktir lo.” Kata gue.
“Gaya lo!” kata’y.
Kami pun tertawa bersama.
Udah jam 2 siang. Saat’y pulang. Piker gue.
“Yon, pulang yuk, udah jam 2 nih. Udah capek juga.” Ajak gye.
“Yuk.” Kata’y ngiyain ajakan gue.
“Tapi gue pulang naik taxi aja ya?”
“Loh kenapa?” tanya’y.
“Kasihan elo capek boncengin gue. Mall ke rumah gue kan nggak dekat.” Jelas gue.
“Ya nggak pa2 lah. Lagian rumah kita searah juga. Santai aja lahi sama gue.”
“Nggak usah lah. Nggak enak gue sama elo. Udah banyak ngerepotin lo.”
“Pokok’y elo purang bareng gue. Gue nggak mau denger alas an apapun. Elo berangkat sama gue pulang juga harus sama gue. Titik!” kata’y membuat gue nggak ada pilihan lain.
“Okelah kalo itu mau lo.” Gue mengiyakan.
Kami pun pulang.
“Makasih ya buat hari ini.” Kata gue sesampai’y di depan rumah.
“Yups… sama2. Ya udah gue pulang dulu.” Pamit’y.
“Nggak mampir dulu, nih?” ajak gue.
“Nggak usah, lain waktu dan kesempatan aja.” Kata’y.
“Hahaha… Ya sudahlah kalo gitu. Sekali lagi makasih ya.”
“Sekali lagi bilang makasih dapat paying cantik lho?” canda’y.
Gue tertawa. Dia pun pulang.
***
Dingin’y mala mini, sukses membuat badan gue menggigil, namun nggak ngebuat gue megurungkan niatuntuk ke taman ngeliat bintang.
“Elo kayak’y seneng banget deh nyantronin nih taman.”
Hah? Kok, pohon ini bias ngomong, sih?
“Elo bisa ngomong?” Tanya gue ke pohon di sebelah gue.
“Hahahaha.” Sebuah suara yang tertawa kencang mengagetkan gue.
Gue nengok ke belakang. Ehhh… buset deh!
“Sialan, lo!” gue melempar Dion pake rumput yang basah.
Dengan gesit’y dia menghindar.
Gue berdiri dan mau ninggalin dia.
“Hahaha gitu aja marah.” Kata’y masih tertawa sambil narik tangan gue.
“Elo ngeselin ah, Yon!” kata gue akhir’y.di taman nih?"
“Lagian elo, ada2 aja, pake ngira segala tuh pohon yang ngomong. Elo kira ini zaman purba, pohon bias ngomong?” kata’y masih tertawa.
“Ya biarin aja, terserah gue dong! Apa urusan lo?” kata gue ketus.
“Ya udah deh. Eh, elo belum jawab pertanyaan gue. Elo kok seneng banget sih nangkring di taman nih?” tanya’y.
“Ya nggak pake kanapa-napa, suka2 gue dong.” Jawab gue masih ketus.
“Masih aja ketus, entar ilang lho cantik’y.” goda’y.
Sontak wajah gue memerah.
“Apa2an sih, lo?! Elo juga ngapain di sini?” Tanya gue mengalihkan pembicaraan.
“Gue tadi janjian sama temen di sini.” Jawab’y.
“Pacar, ya?” Tanya gue lagi.
“Emmm… temen aja, kok.” Jawab’y.
Syukurlah. “Ah yang bener?” god ague.
“Ya… temen kok. Kenapa?” tanya’y balik.
“Cewek?” Tanya gue.
“Kenapa sih, Tanya mulu. Kalo cewek kenapa kalo cowok kenapa?” Dion udah rada kesal.
“Ya kalo lo janjian’y sama cewek mah gue maklum, nah kalo janjian’y sama cowok, elo jadi kayak maho.” Kata gue.
Dion ngejitak kepala gue.
“Sialan lo. Untung gue masih normal jadi sama cewek janjian’y.”
Mampus! Emmm… syukurin lo, Tha. Nangis2 sakit hati deh lo. Batin gue.
“Hey, malah bengong. Kesambet lo?” Dion membuyarkan lamunan gue.
“Eh… emm, ya udah gue pulang duluan deh kalo gitu. Ganggu kencan lo aja.” Kata gue sok tegar.
“Lho kok pulang? Sini aja kali, gue kenalin sama temen gue.” Ajak Dion.
“Ah nggak deh.” Kata gue dengan wajah yang rada nggak ikhlas.
“Bikin panas.” Kata gue lahgi setengah berbisik.
“Panas? Apa’y yang panas?” Tanya Dion.
“Nggak, udara’y panas.” Jawab gue asal.
“Panas? Nggak salah, dingin gini kok dibilang panas. Otak lo tuh kalo panas, maka’y error, nggak bias bedain suhu panas sama dingin.” Oceh’y.
Otak gue, lo ngga liat nih hati gue yang panas. Oon!
“Terserah gue lah, gue yang ngerasa juga. Udah ah gue pulang dulu.” Pamit gue.
“Yahhh pulang. Jangan lah, sini aja dulu temenin gue.” Pinta’y.
“Lha gimana sih, kata’y tadi mau janjian sama temen lo, mas ague ikut nimbrung juga. Kan nggak enak.” Kata gue pasrah.
“Ya nggak pa2lah, ayo!” paksa’y lagi.
“Ya udah deh, tapi kalo temen lo udah dating gue pergi, ya.”
“Oke2 sip, deh.” Senyum sumringah terkembang.
Kami pun duduk di bawah pohon.
“Enak juga ya duduk di sini.” Kata Dion.
“Ya dong, apalagi ad ague.” Gue mulai ngocol.
“Gaya lo selangit deh.”
“Beneran kok. Coba kalo nggak ad ague di sini, tempat ini nggak akan sebagus ini.” Kata gue sambil merebahkan diri di rumput. Dion ngikutin gue.
“Halah, ya ada elo itu biang rusuh, kali Hahahaha.”
“Yeee… elo mah ngiri aja sama gue.” Gue nggak diterima dibilang gitu.
“Eh Tha, elo kok sering banget sih maen ke sini?” Tanya Dion tiba2.
“Elo kok tau? Hayo… pasti sering nguntit gue ya. Ngaku lo!” kata gue nyablak.
Dion kelabakan.
“Eh… anu… nggak lah ngapain jug ague nguntit2 lo? Kurang kerjaan banget.” Jawab Dion grogi.
“Masa sih, kok bias tau gue sering kr sini??” Tanya gue.
“Ya kebetulan aja kadang2 gue lewat sini terus liat lo.” Jawab’y.
“Ooooo gitu toh.”
“Lo belum jawab pertanyaan gue kenapa lo sering ke sini?” Tanya dia lagi.
“Ya nggak kenapa-napa. Seneng aja di sini. Gue bias menikmati kesendirian, meditasi, berekspresi, berkreasi, bermacam-macam deh.” Jawab gue.
“Lo kate apa meditasi. Elo mah emang rada eneh. Cewek ajaib bin unik yang pernah gue temuin. Jangan2 lo bukan dari bumi lagi.” Dia termakan omongan gue.
“Sialan, lo! Lo kira gue apa? Alien? Elo tuh yang alien. Gue ini manusia ternormal yang pernah ada, bahkan saking normal’y jadi abnormal.”
“Benean lo abnormal?” tanya’y kaget.
“Haha, dia percaya. Nggak lah, abnormal, nggak banget kali.”
Dia pun tertawa melihat kegilaan gue.
“Eh mana temen lo udah jam segini nggak nongol juga?” Tanya gue ngingetin Dion.
“Iya nih nggak tau juga, dari tadi nungguin nggak dateng2. Lupa kali tuh anak.” Jawab Dion santai.
“Coba hubungin aja.” Usul gue.
Dion pun menghubungi temen’y.
“Nggak aktif.” Kata Dion.
“Ya udah lah biarin aja, lupa kali tuh anak.” Tambah Dion lagi. Berarti tuh cewek bukan pacar’y. YES! BUKAN PACAR’Y.
“Baguslah.”kata gue keceplosan.
“Bagus kenapa?” Tanya Dion.
Gue gelagapan. “Anu… Ya bagus gitu gue nemenin lo di sini. Kalo nggak, lo bias jamuran nungguin temen lo yang nggak pasti dateng’y itu.” Duhhhh hamper aja ketahuan.
“Hahaha, iya bener. YTuh kan, nggak salah gue nyuruh elo nemenin gue disini.”
Dion percaya dan mengiyakan omongan gue.
“Yups. Lama2 dingin juga di sini.” Gue merapatkan tangan ke dada.
“Nih pake.” Kata Dion seraya ngelepas jaket yang dipake’y.
“Elo?” Tanya gue.
“Nggak pa2, elo aja yang pake.”
“Nggak ah itu kan punya lo.”
“Elo ini sok nolak segala, masuk angina entar!” Dion mengenakan jaket’y ke gue. Hangat.
“Makasih.” Kata gue tulus.
“Sama2.”
Kami menghabiskan malam itu dengan saling bercanda.
“Elo udah makan?” Tanya Dion ke gue.
“Udah, kenapa?”
“Gue belum nih, laper, temenin yuk.” Ajak’y.
“Makan di mana?”’
“Yang deket2 sini aja lah. Banyak kan yang jualan di kompleks ini.”
“Ya udah kalo gitu ayo, tapi gue tadi jalan kaki nggak pake sepeda.”
“Nyante aja, gampang kan lo bias ikut gue.”
“Okelah kalo gitu. Nih jaket lo.” Gue ngelepas jaket yang Dion kasih ke gue.
“Udah, pake aja dulu.” Tapi ditolak sama tuh alien.
Gue mengangguk.
“Elo pake motor?” kata gue kaget.
“Iya. Kenapa?”
“Tumben aja. Nggak pernah lo bawa ke sekolah soal’y.”
“Gue ke sekolah lebih seneng naek sepeda ketimbang motor. Itung2 juga olahraha. Ini bawa motor juga kebetulan, kok.” Jelas Dion.
“Kata’y mau makan malah bahas motor.” Gerutu gue.
“Hahaha… yang bahas siapa, kan elo yang nanya?”
“Hahaha… oh iya, lupa.” Gue garuk2 kepala.
“Ya udah naek, laper stadium empat nih.”
“Hahaha… oke, Boss.”
“Elo tau kan tempat makan deket sini?”
“Ya tau lah, kompleks rumah gue. Jalan aja dulu, entar gue kasih tau.”
“Ya udah kalo gitu.”
“Makan’y terserah aja, kan?”
“Iya, gue sih apapun itu selagi masih dalam kategori makanan oke2 aja.”
“Ya udah, tuh banyak rumput.” Gue becandain Dion.
“Lo kate gue ternak? Makan’y rumput?”
“Bukan’y tadi elo yang bilang selagi tuh makanan oke2 aja., itu berarti…”
“Maksud gue, yang layal dimakan oleh manusia bukan hewan, Oon.” Dion memotong ucapan gue.
“Hahaha… iye2 gue tau, gue kan Cuma becanda doing. Eh, pelan2 dong entar kelewatan lagi tempat makan’y.
“Sipp tenang aja sama gue.”
“Noh depan tuh tempat makan’y.”
“Oke let’s go.”
“Elo beneran nih nggak mau makan?” Dion nawarin gue makan.
“Iya Yon, elo aja yang makan.” Gue sok nolak.
“Minum?”
“The anget aja deh.”
“Ya udah kalo gitu., Bang nasi goreng’y satu, the anget’y dua ya.”
“Eh Ypn, temen lo tadi gimana?” Tanya gue.
“Tau tuh dia yang ngajak. Dia yang nggak dating. Bodohlah.” Dion nggak peduli.
“Waduh parah juga.”
“Nih mas pesanan’y datang.” Pesanan kami pun dating.
“Makasih, Bang.”
“Nih minum lo.” Dion ngasih the anget ke gue.
“Iya makasih. Elo makan aja.” Gue mempersilakan Dion makan.
“Gue makan, ya.”
“Iya…”
“Mau nyicip?” Dion nawarin gue nasi goreng’y.
“Nggak ah, makasih.” Gue menolak tawaran’y.
“Beneran nih?”
“Iya beneran makan aja elo’y.”
“Satu suapan aja ketimbang lo ngiler ngeliatin gue.”
“Hahaha… dia bilanginenggak, nih anak ngeyel banget!”
“A…a… ayo, nih gue suapin!” Dion bikin gue merah.
“Malu tau diliatin orang.”
“Ya biarin aja. Bisa juga lo ternyata malu.”
“Lo kate gue elo apa, urat malu’y putus.”
“Yey… enak aja! Kan biasa’y elo lagi yang nggak punya malu,mana sering malu2in.”
“Huh rese!”
“Ayo nih satu kali aja.” Dion maksa gue.
“Maksa! Entar dikira orang2 apalagi.”
“Ya peduli amat, kita bayar.”
“Nih a… dudul!” paksaan tingkat dewa.
“Iye… iye, sini biar gue sendiri aja.” Gue mengambil sendok dari tangan Dion.
“Nggak! Biarin gue aja!” Dion mengambil lagi sendok gue.
“Cerewet.” Dengan terpaksa gue terima Dion nyuapin gue.
“Nah gitu dong, dari tadi kek, enak juga kan diliat’y.”
Gue mengunyah dengan setengah hati.
“Kalo lagi makan tuh jangan ngomong, nasi’y belepotan ke mana2 tuh.”
“Udah, abisin gih cepetan. Udah jam berapa ini?” gue pura2 marah. “Liat nih, udah jam Sembilan malam.” Lanjut gue.
“Iya, sabar dong… nih juga udah mau selesai.”
“Nih duit minum gue.”gue menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan ke Dion.
“Nggak udah, pake duit gue aja. Itung2 ucapan terima kasih karena lo udah nemenin gue.”
Asiiik di traktir!
“Makasih banget.” Kata gue tulus.
Dion hanya tersenyum sambil mengacak rambut gue.
“So, langsung pulang nih?” Dion nanyain gue.
“Iya lah, emang mau kemana lagi udah jam segini?”
“Ya siapa tau mau jalan2 gitu.”
“Lo pikir gue kalong apa kelayapan malam2?”
“Hahaha, bias aja lo. Pulang yuk, gue anter.”
“Ya emang elo harus nganter gue, mas ague jalan kaki, yang bener aja.”
“Ya iya lah, masa enggak.”
“Ya siapa tau kan elo tega, kan elo orang’y tegaan.”
“Sama cewek yang waras sih gue mana tega, kecuali cewek’y kayak elo… gue mah tega2 aja.”
“Sialan, lo!”
“Makasih ya udah nganterin gue pulang.”
“Ya udah gue masuk dulu ya.”
“Eh Tha, tunggu.”
“Emm… kenapa?” gue balikin badan lagi.
“Minta nomor handphone, dong?” ucap Dion yang membuat gue heran.
“Nomer siapa? Bokap apa nyokap?”
“Nenek lo.”
“Udah meninggal.”
“Yah, oon tingkat dewa nih anak, nggak ngerti2 juga maksud. Nomor handphone-mu saying.” Dengan kesabaran yang hamper hilang, Dion ngejelasin.
Hampir pingsan denger Alien manggil gue saying.
“Sayang pale lo, bilang dong daritadi.”
“Elo’y aja yang nggak ngerti2.”
“Sini handphone lo, gue ketik sendiri.”
“Nih.” Dion ngasih handphone dia.
“Makasih.”
“Buat apa sih nomor handphone gue?” gue pake nanya lagi.
“Buat panggil panti pijet.”
“Sekate-kate lo, lo pikir gue perempuan apa?”
“Haha… elo tuh aneh banget, sih! Kalo ngomong’y rada nyimpang ke situ langsung ngerti, giliran ngomong yang bener nggak ngerti2. Manusia langka, susah diajak ngomong.”
“Ya lagian elo juga nggak jelas gitu.”
“Ya udahlah, masuik gih udah malem, nggak baek cewek malam2 gini di luar. Apa kata tetangga?”
“Ye… dari tadi kali gue mau masuk. Elo yang nahan gue disini.”
“Hahaha… iya… iya, gue pulang dulu. Bye.”
“Oke bye, hati2.”
“Sip.”
Gue masuk ke rumah dengan wajah sumringah.
Dreett… Dreeettt…
SMS masuk.
Nomor tak dikenal.
Night baweell, have a nice dream.. :)
Ini nomor nyasar atau orang iseng, sih. Maki gue sambil membanting handphone di atas kasur.
***
Apa? Bawel? Siapa sih orang ini?
Dreett… Dreeettt…
SMS lagi.
Jaket gue jangan lupa dicuci ya? :p
Jaket?
Sialan ternyata si Alien cacingan.
Ya tuhan gue lupa balikin jaket Dion.
Ohhhh ternyata elo yang SMS, dasar alien gila. Sorry gue lupa balikin jaket lo, elo sih ngajak ngomong gue terus.
Nggak lama, Dion bales sms gue.
Sante aja sama gue. Asal jangan lupa dicuci aja.
Sialan! Dia pikir gue pembokat’u apa seenak’y nyuruh nyuci jaket’y.
Emmm… ntar deh gue pikir2 dulu. Nih jaket gue cuci atau gue buang. Ya udah deh. Gue mau tidur dulu nih. Ngantuk! Lo ganggu jam tidur orang aja.
Gue nggak abis pikir, tumben banget Dion SMS gue sampe berturut-turut gini.
Handphone gue kembali bergetar.
Berani buang jaket gue, lo gue gantung! Eh besok lari pagi yuk mumpung Minggu tuh. Mau nggak?
Nih anak dibilangin gue mau tidur eehh malah bales SMS lagi.
Yakin lo bias bangun pagi? Jangan2 lo kebo lagi. Susah bangun’y. Wkwkwkwk…
Sok banget sih gue ngatain orang lain tidur kayak kebo.
Kagak kebalik nih cerita’y? Jangan2 elo lagi yang kebo. So, mau nggak?
Gue senyum2 sendiri baca SMS Dion.
Yee nggaklah, ya. Kita buktiin aja besok siapa yang bakal ngebo. Iya besok kita lari pagi. Jam berapa?
Berani banget gue nantangin Dion.
Oke siapa takut. Kalo kalah apa sangsi’y? Jam 05.30. Lo gue jemput dan harus udah siap. Liat aja kalo nggak. Gue jitak lo!
Sialan pake ngancem gue.
Kalo lo kalah, lo harus gendong gue pulang. Kalo gue kalah, lo juga harus gendong gue pulang. Oke. Siapa takut.
Hehe…
Yee kalo gitu mah untung di elo rugi di gue. Masa kalah menang gue harus gendong lo, nggak adil ah!
Hahaha… bener juga sih.
Ya masa kalo gue kalah gue juga harus gendong lo? Mana kuat gue? :p
Dasar Alien nggak mau rugi!
Oke gini aja biar deal, kalo gue yang kalah gue bakal jemput lo tiap hari ke sekolah, tapi kalo lo yang kalah elo harus mau gue jemput tiap hari berangkat sekolah.
Lama gue mencerna SMS Dion (Oon lagi kumat).
Oke deal! Udah gue ngantuk nih dari tadi ngeladenin elo nggak ada abis’y.
Gue nguap untuk keseratus kali.
Ya udah tidur gih sana lo, daripada besok kesiangan. Kalah deh taruhan sama gue :p Night baweeel… :p
Balas nggak, ya?
Night Alien jelek… :p
Saat’y gue tidur.
***
Kriiiinggg… Kriiinggg
“Aaargh berisik, tau!” dengan mata terbuka setengah gue melirik beker di meja samping tempat tidur. Masih jam 5 pagi.
“Siapa sih pasang alaram jam segini! Ganggu jam tidur orang aja!” gue meracau.
Seketika mata gue membelalak. Gue ada janji dengan Dion. Jogging!
Setengah melompat gue berlari menuju kamar mandi.
Kemudian, gue nunggu Dion di teras depan rumah.
“Hoaaammm….!” Gue masih ngantuk. Sialan lama banget tuh Alien.
Tik… Tok… Tik… Tok…
Setelah sekian lama menunggu, akhiir’y Dion dating dengan kostum olahraga yang cool abis.
“Wow… hebat! Lo banguun’y pagi juga, ya? Gue pikir bakal ngebo. Apalagi minggu gini.” Dion mulai meledek gue.
“Sorry ya. Jangan samain gue sama elo, deh. Sesuai janji, kan? Gue udah bias buktiin ke elo kalo gue bias bangun pagi.” Gue nyombongin diri.
“Oke siapa takut, yuk lari!” ajak Dion.
“Sekarang?”
“Nggak, taon depan!”
“Lo pasti ngantuk, kan? Ayppp, bawa lari aja biar nggak ngantuk!” Dion narik tangan gue.
“Iye… iye. Nggak usah narik2 gitu, dong..”
“Elo kalo nggak ditarik nggak bakal mulai lari pagi.”
“Hehe…”
Sepanjang jalan gue lari bareng Dion, gue merasa seperti mimpi.
“Kalo lari, mata’y liat ke depan, dong.”
Ternyata Dion liat gue merhatiin dia. Malu deh gue ketahuan.
Gue nundukin kepala.
“Yeee dibilangin kalo lari mandang ke depan malah nunduk. Elo ngapain sih dari tadi mata’y liat ke sana ke mari nggak jelas gitu?” Dion ngangetin gue lagi.
“Ngantuk tauuuuu…!” gue Cuma bias berkata seada’y.
“Elo kenapa sih, kok jadi diem gini? Nggak senang ya jogging bareng gue?” pertanyaan yang bikin gue kaget.
“Nggak kok, seneng jogging bareng lo.” Kata gue jujur.
“Kirain elo nggak seneng. Soal’y nggak kayak biasa’y aja lo nggak bawel.” Dion ternyata semakin kenel gue.
“Elo sering ya Yon, jogging kayak gini?” Tanya gue basa-basi.
“Nggak juga sih, kadang2 aja kalo lagi pengen. Kalo elo?”
“Jangan ditanya, nggak pernah. Baru ini. Hehe…”
“Kenapa?”
“Karena… mau jawaban jujur atau bohong?”
“Dua2’y.”
“Jujur gue sudah bangun’y maka’y jarang bisa jogging2 kayak gini, bohong banget kalo gue bisa bangun tanpa bantuan nyokap.”
“Parah elo, Tha. Terus hari ini kok bisa bangun pagi?”
“Nggak tau juga, gue cuman masang alarm doang, terus juga karena inget ada janji jogging bareng lo sama taruhan kita.”
“Ooo… gitu, toh. Ya baguslah ada peningkatan.”
“Haha… gue juga heran. Mungkin harus pake taruhan dulu kali ya, baru gue bangun sendiri tanpa bantuan nyokap?”
“Hahaha… bukan masalah ada atau nggak ada’y taruhan, Tha, tapi karena ada’y niat dan kemauan aja semua pasti bisa kok.”
“Haha… gitu ya, gaye lo Yon sok nasihatin gue. Makasih.”
“Sama2 bawelll…!” kata Dion sambil ngacak2 rambut gue.
“Dasar elo ya nggak usah pake ngcaka2 rambut gue kaleee. Sini lo!” gue berlari mengejar Dion.
“Ayooo… sini kejar gue! Sekalian balapan siapa yang duluan nyampe ke taman?” Dion lari ninggalin gue.
“Curang lo, Yon, baru bilang. Elo nyuri start duluan!” gue berteriak di belakang’y.
“Yes! Gue menang!” Dion berteriak senang karena nyampe taman duluan.
Hosh… hosh… hosh….
Gue masih terengah-engah gara2 ngejar Dion.
“Elo… elo… elo… cur…. Curang!” napas gue masih putus nyambung.
“Ayooo udah entar dulu ngomong’y duduk sini dulu. Ngomel’y ditahan dulu ya?” Dion nyuruh gue duduk.
“Tarik napas dalam2, hembuskan dari mulut secara perlahan. Ulangin terus beberapa kali. Kalo masih susah napas’y gue kasih napas buatan.” Dion mulai ngebanyol. Refleks tangan gue noyor kepala Dion.
“Ya udah tunggu bentar di sini gue beliin minum. Kasihan anak orang udah setengah mati gini.”
Kampret. Lokate anak siapa kalo bukan anak orang? Elo tuh anak kingkong.
Nggak beberapa lama setelah napas gue udah mulai pulih, Dion dating.
“Nih minum dulu.” Dion ngasih sebotol air mineral. Gue langsung tegak air itu.
“Makasih.” Gue ngasih botol air minum yang udah setengah ke dion.
“Elo aja minum, gue nggak haus kok.” Kata’y mengerti maksud gue.
Setelah minum dan mengambil napas yang dalem, gue jadi lupa mau ngomel2 ke Dion.
Gue ngelap keringat di kening.
“Kasihan… keringetan.” Dion ngelap keringat di kening gue pake handuk dia. Gue grogi.
“Makasih. Gue bisa sendiri kok.” Gue megang tangan Dion nggak sengaja.
“Tha, elo ada berapa saudara?” Tanya Dion.
“Cuma gue sendiri. Kenapa?”
“Nggak, Tanya aja.Elo nggak kesepian sendirian gitu?”
“Nggak, gue kan punya banyak temen. Ada elo juga yang ngeramein.”
Upssst… gue keceplosan.
“Maksud’y?” Dion naynya ke gue”Emmm… anu… kan elo temen gue ya… ya… ya… y ague banyak temen termasuk elo. Temen gue.” Jawaban gue nggak nyambung sama sekali.
“Oooo…” Dion garuk2 kepala.
“Elo berapa saudara?” Tanya gue.
“Nggak ada, sama kayak lo. Gue anak tunggal.”
“Ohh gitu toh.”
“Eh Tha, gue heran deh. Elo kok bisa benci sama gue?”
DEG!Gue jawab apa dong?
“Benci? Kenapa gue benci lo?”
“Iya, lo benci gue kan? Sejak kita duduk sebelahan, elo kerjaan’y sewot terus sama gue. Dari dulu gue nyari waktu yang tepat nanyain hal ini ke elo. Gue rasa ini waktu yang tepat.”
Dion ada bener’y juga sih. Kenapa coba alasan gue bisa sewot sama dia?
Tuha, kenapa Dion jadi nanya gini sih?
“Gue nggak benci sama elo Yon.”
“Terus? Salah gue apa? Kok elo sama gue sering berantem?”
“Elo… lo ngeselin.”
“Kenapa gue ngeselin?”
“Nggak tau! Sekarang lo kenapa juga mesti ngeladenin gue kalo gue nyari masalah sama elo?”
“Nggak tau juga kenapa.” Din menjawab dengan santai’y.
“Nah itu lo sendiri juga nggak tau. So, wajar dong kalo gue juga nggak tau kenapa dan mengapa. Ini semua berjalan tanpa gue tau.”
“Ya udah lupakan aja. Sekarang gue udah senang kok elo udah nggak terlalu gila.”
Mulai lagi kan…
“Tu kan, lo itu emang rese!” gue ngacak2 rambut Dion.
Dion tersenyum ke arah gue.
“Pulang yuk udah jam 09.00 nih. Udah capek juga.” Gue ngajak Dion pulang.
“Yuk. Mau lomba lari lagi?”
Gue cepat2 menggelengkan kepala.
Dion tertawa puas.
“Elo kenapa sih, kok jadi diem gini? Nggak senang ya jogging bareng gue?” pertanyaan yang bikin gue kaget.
“Nggak kok, seneng jogging bareng lo.” Kata gue jujur.
“Kirain elo nggak seneng. Soal’y nggak kayak biasa’y aja lo nggak bawel.” Dion ternyata semakin kenel gue.
“Elo sering ya Yon, jogging kayak gini?” Tanya gue basa-basi.
“Nggak juga sih, kadang2 aja kalo lagi pengen. Kalo elo?”
“Jangan ditanya, nggak pernah. Baru ini. Hehe…”
“Kenapa?”
“Karena… mau jawaban jujur atau bohong?”
“Dua2’y.”
“Jujur gue sudah bangun’y maka’y jarang bisa jogging2 kayak gini, bohong banget kalo gue bisa bangun tanpa bantuan nyokap.”
“Parah elo, Tha. Terus hari ini kok bisa bangun pagi?”
“Nggak tau juga, gue cuman masang alarm doang, terus juga karena inget ada janji jogging bareng lo sama taruhan kita.”
“Ooo… gitu, toh. Ya baguslah ada peningkatan.”
“Haha… gue juga heran. Mungkin harus pake taruhan dulu kali ya, baru gue bangun sendiri tanpa bantuan nyokap?”
“Hahaha… bukan masalah ada atau nggak ada’y taruhan, Tha, tapi karena ada’y niat dan kemauan aja semua pasti bisa kok.”
“Haha… gitu ya, gaye lo Yon sok nasihatin gue. Makasih.”
“Sama2 bawelll…!” kata Dion sambil ngacak2 rambut gue.
“Dasar elo ya nggak usah pake ngcaka2 rambut gue kaleee. Sini lo!” gue berlari mengejar Dion.
“Ayooo… sini kejar gue! Sekalian balapan siapa yang duluan nyampe ke taman?” Dion lari ninggalin gue.
“Curang lo, Yon, baru bilang. Elo nyuri start duluan!” gue berteriak di belakang’y.
“Yes! Gue menang!” Dion berteriak senang karena nyampe taman duluan.
Hosh… hosh… hosh….
Gue masih terengah-engah gara2 ngejar Dion.
“Elo… elo… elo… cur…. Curang!” napas gue masih putus nyambung.
“Ayooo udah entar dulu ngomong’y duduk sini dulu. Ngomel’y ditahan dulu ya?” Dion nyuruh gue duduk.
“Tarik napas dalam2, hembuskan dari mulut secara perlahan. Ulangin terus beberapa kali. Kalo masih susah napas’y gue kasih napas buatan.” Dion mulai ngebanyol. Refleks tangan gue noyor kepala Dion.
“Ya udah tunggu bentar di sini gue beliin minum. Kasihan anak orang udah setengah mati gini.”
Kampret. Lokate anak siapa kalo bukan anak orang? Elo tuh anak kingkong.
Nggak beberapa lama setelah napas gue udah mulai pulih, Dion dating.
“Nih minum dulu.” Dion ngasih sebotol air mineral. Gue langsung tegak air itu.
“Makasih.” Gue ngasih botol air minum yang udah setengah ke dion.
“Elo aja minum, gue nggak haus kok.” Kata’y mengerti maksud gue.
Setelah minum dan mengambil napas yang dalem, gue jadi lupa mau ngomel2 ke Dion.
Gue ngelap keringat di kening.
“Kasihan… keringetan.” Dion ngelap keringat di kening gue pake handuk dia. Gue grogi.
“Makasih. Gue bisa sendiri kok.” Gue megang tangan Dion nggak sengaja.
“Tha, elo ada berapa saudara?” Tanya Dion.
“Cuma gue sendiri. Kenapa?”
“Nggak, Tanya aja.Elo nggak kesepian sendirian gitu?”
“Nggak, gue kan punya banyak temen. Ada elo juga yang ngeramein.”
Upssst… gue keceplosan.
“Maksud’y?” Dion naynya ke gue”Emmm… anu… kan elo temen gue ya… ya… ya… y ague banyak temen termasuk elo. Temen gue.” Jawaban gue nggak nyambung sama sekali.
“Oooo…” Dion garuk2 kepala.
“Elo berapa saudara?” Tanya gue.
“Nggak ada, sama kayak lo. Gue anak tunggal.”
“Ohh gitu toh.”
“Eh Tha, gue heran deh. Elo kok bisa benci sama gue?”
DEG!Gue jawab apa dong?
“Benci? Kenapa gue benci lo?”
“Iya, lo benci gue kan? Sejak kita duduk sebelahan, elo kerjaan’y sewot terus sama gue. Dari dulu gue nyari waktu yang tepat nanyain hal ini ke elo. Gue rasa ini waktu yang tepat.”
Dion ada bener’y juga sih. Kenapa coba alasan gue bisa sewot sama dia?
Tuha, kenapa Dion jadi nanya gini sih?
“Gue nggak benci sama elo Yon.”
“Terus? Salah gue apa? Kok elo sama gue sering berantem?”
“Elo… lo ngeselin.”
“Kenapa gue ngeselin?”
“Nggak tau! Sekarang lo kenapa juga mesti ngeladenin gue kalo gue nyari masalah sama elo?”
“Nggak tau juga kenapa.” Din menjawab dengan santai’y.
“Nah itu lo sendiri juga nggak tau. So, wajar dong kalo gue juga nggak tau kenapa dan mengapa. Ini semua berjalan tanpa gue tau.”
“Ya udah lupakan aja. Sekarang gue udah senang kok elo udah nggak terlalu gila.”
Mulai lagi kan…
“Tu kan, lo itu emang rese!” gue ngacak2 rambut Dion.
Dion tersenyum ke arah gue.
“Pulang yuk udah jam 09.00 nih. Udah capek juga.” Gue ngajak Dion pulang.
“Yuk. Mau lomba lari lagi?”
Gue cepat2 menggelengkan kepala.
Dion tertawa puas
“Elo lari aja ngos2an, kenapa suka maen basket?” di jalan pulang ke rumah Dion nanyain gue.
“Nggak ngerti juga kenapa.” Gue jawab seada’y.
“Kok nggak ngerti? Aneh ah.” Dion payah kok baru nyadar.
“Mungkin ini kalo nama’y hobby, ngejalanin’y pake hati kalo lari ngejalanin’y kayak mau mati.” Jawab gue.
“Hahaha, bisa aja lo. Eh bentar.”
Dion metik bunga mawar waktu ngelintasin sebuah rumah.
“Elo suka mawar kan? Ini buat lo.” Dion ngasih bunga mawar itu ke gue.
“Kok elo metik sembarangan? Itu kan tanaman orang, entar kalo yang punya tau terus marah gimana?” gue senang sih dikasih Dion bunga mawar.
“Hahaha, nggak pa2 kali. Satu ini, nggak bakal rugi lah.”
“Gila, lo! Makasih.”
Em… wangi.
Tanpa gue sadari, terlintas kenangan peristiwa itu. Peristiwa saat Erwin ngambil bunga mawar buat gue dan dia ketabrak. Ketabrak di depan mata gue. Nggak sengaja air mat ague menetes. Tanpa sadar, tangan gue meremas tangkai mawar yang gue pagang.
“Tha… elo kenapa?” Dion khawatir liat gue.
“Tangan lo?” dengan cepat Dion melepas genggaman mawar di tangan gue dan menempelkan handuk’y ke tangan gue yang berdarah.
“Tha… jawab gue dong, jangan diem aja. Elo kenapa?” terdengar nada khawatir dari suara Dion.
Gue mesti ngomong apa.
“Gue nggak kenapa-napa kok, Yon. Makasih.” Jawab gue lirih.
“Elo beneran nggak pa2 kan?” Dion masih khawatir.
“Iya Yon, nggak pa2 kok. Tenang aja.” Jawab gue.
“Tapi kenapa lo tiba2 nangis?” Dion masih penasaran.
Gue hanya jawab dalam hati. Suatu saat lo bakal tau!
Nggak berapa lama seorang wanita keluar dari dalam rumah yang mawar’y barusan dipetik Dion.
“Aaaaahhhhhhh mawar2ku!!!”
Kami berdua kaget.
“Kalian yang ngacak2 tanaman mawarku?! Tanya wanita itu marah.
“Maaf bu saya nggak bermaksud untuk berbuat lancing dengan ngambil tanaman mawar ibu tanpa izin. Saya hanya mencoba nyenengin pacar saya ini, tadi nangis gara2 berantem sama saya karena saya lupa ulang tahun dia. Nanti saya ganti kerugian’y ya bu.” Dengan tenang Dion ngejelasin semua’y dengan kebohongan pula.
Wajah wanita itu pun langsung berubah drastic.
“Oh ya nggak apa nak. Ibu salut sama keberanian kamu buat berkata jujur. Kamu nggak usah ganti kok, cuman satu juga. Masih ada yang lain.
“Makasih ya bu. Sekali lagi saya minta maaf.” Kata Dion.
“Nak kamu beruntung lho bisa dapat pacar kayak cowok ini. Dia tau dia salah, tapi tetap mau mengakui’y. Jadi kamu harus mau memaafin dia. Ibu tau dia pasti nggak sengaja lupa hari ulang tahun kamu. Oh iya selamagt ulang tahun deh.” Kata ibu itu sambil nyalamin gue.
“Iya bu, makasih.” Kata gue sambil menyambut salaman ibu itu.
“Ya udah deh Bu, kami pamit dulu. Makasih ya Bu, maaf udah bikin kacau.” Dion kembali dengan acting’y.
“Iya nak, ati2 ya.”
“Ayo pulang, sini aku gendong. Kata’y kamu capek?” Dion nyuruh gue naik ke punggung’y.
“Gendong? Gu…”
Belum sempat juga ngomong tuh anak nyubit lengan gue. Refleks gue teriak.
“Adewwww… sakit tau!”
“Tuh, kan udah aku bilang ayo sini aku gendong, sakit kan kaki’y.”
Siapa bilang kaki gue sakit oon! Tangan gue nih yang sakit lo cubit. Kata gue geram dalam hati.
“Romantis banget sih kalian.” Idih tuh ibu2 bilang romantic lagi. Gue dipaksa.
“Mari, Bu.” Dion tersenyum sebelum akhir’y pergi.
Setelah agak jauh dari rumah ibu tadi, gue noyor kepala Dion.
“Woiii turunin gue sekarang! Buruan!” gue marah2 ke Dion.
“Ahh nanggung bentar lagi sampe rumah lo.” Kata Dion.
“Elo ini kebangetan deh. Buruan deh turunin gue. Malu tau diliatin orang2.”
“Peduli amat. Gue nggak punya malu. Kalo elo malu tutup aja muka lo.”
Wah kampret nih, Alien.
“Hei bisa diem nggak sih. Jatuh beneran entar nih.”
***
“Udah turun di sin aja. Bentar lagi sampe rumah tuh. Malu gue kalo sampe bonyok tau!” kata gue memelas.
“Iya deh nih gue turunin. Kasihan memelas gitu.”
Akhir’y Dion nurunin gue juga.
Kami pun berjalan sampai ke depan rumah gue.
“Makasih buat pagi ini.” Kata gue ketus ke Dion.
Dia malah cengengesan.
“Sama2. Pagi Om, Tante. Saya pamit pulang dulu.” Kata Dion sok manis di depan ortu gue.
“Lho kok buru2 amat pulang’y. Mampir dulu aja. Sarapan bareng.” Kata nyokap ngajak Dion.
“Nggak tante, makasih. Saya pulang aja.”
Syukurlah Dion nolak.
“Nggak usah malu. Ayo masuk aja sarapan bareng.” Yah bokap pake acara ikut2an.
“Ayo Tha, ajak temen’y masuk. Tadi mama masak banyak juga.” Nyokap nyuruh gue lagi.
“Iya Yon. Masuk aja, nyokap bokap gue lagi baik tuh.” Kata gue ngajak.
“Iya Tha makasih, dipaksa sih jadi nggak bisa nolak.”
Kami berempat duduk di meja makan.
“Kok pacar’y nggak pernah dikenalin sama Mama sih, Tha?” nyokap nanya gitu sontak gue kaget.
“Mah, ini…”
Papa ikut nyamber.
“Kamu ini, Tha. Punya pacar bukan’y dikenalin sama orang tua malah diem. Gimana sih? Nama’y siapa, Nak?”
“Dion, Om.”
“Kok nggak pernah main ke rumah, sih?” Tanya mama lagi.
“Mah…”
“Anu tante, Ristha’y nggak pernah mau kalo saya main ke rumah.”
Dasar tukang bohong.
“Maklum ya nak Dion, Ristha emang anak’y gini susah diatur.”
Mampuslah gue.
“Iya nak Dion, sering2 maen ke rumah. Kasihan Ristha sendirian di rumah nggak ada temen’y. Dia anak’y rada manja soal’y, maklum anak tunggal. Harus ekstra kasih perhatian.”
“Hehe… iya, Om, saya udah kebal kok ngadepin Ristha.”
“Ristha ini juga paling susah kalo dibangunin pagi2.” Mama mempermalukan gue di depan Dion.
“Sering2 aja ajak dia jogging, biar terbiasa hidup sehat. Ketimbang molor terus di rumah.” Tambah Papa.
“Oh iya nak Dion satu sekolah sama Ristha?”
“Iya tante, satu kelas dan satu meja juga malahan.” Dion dengan bangga cerita.
PLEASE! STOP KEBOHONGAN INI!
“Wah hebat ya kalian ini, conlok sampai segitu’y.”
“Iya, Tante. Begitulah. Ya udah Om, Tante, saya pamit dulu. Udah siang. Makasih sarapan’y, masakan Tante, enak banget.” Dion pamit.
“Ah nak Dion ini bisa saja.” Mama tersipu malu.
“Kok buru2 nak Dion, entar saja pulang’y.” kata Papa.
Aduhh Papa ini…
“Nggak, Om kapan2 aja saya main lagi. Saya pulang dulu.”
Baguslah lo nolak. Kapan2? Nggak ada kapan2 lagi. Elo nggak boleh maen ke rumah gue! Titik! Gua nggak akan membiarkan lo ke sini lagi. Batin gue.
“Besok bangunin Ristha ya nak Dion. Siapa tau kalo kamu yang bangunin dia bisa bangun cepet.” Pesan Mama.
“Mama… Ristha bisa bangun sendiri.” Akhir’y gue ngomong juga.
“Tenang aja, Tante. Besok Ristha saya jemput biar nggak telat berangkat’y.”
Aduh pake segala sok2an nawarin diri mau jemput.
“Ristha bisa berangkat sendiri, Ma.”
“Aduh kamu ini, bangun pagi aja susah pake acara mau berangkat sekolah sendiri.” Kata Mama.
“Wah bagus itu nak Dion, kalo kamu yang jemput pasti nih anak nggak bakal telat lagi. Maklumlah.” Papa nimbrung.
“Iya om, pasti.” Jawab Dion sok mantap.
“Ya udah, Tha anter nak Dion ke depan dulu gih.”
“Iya, Mah.”
“Om, tante, pamit dulu.”
“Ya nak Dion ati2, maen2 lagi ke rumah.” Kata Mama.
“Iya tange.” Kata Dion.
Gue ngedorong tubuh Dion ke depan pinta. Gue berkacak pinggang. Dion nyumpal bibir gue pake jari telunjuk’y.
“Sssttt… jangan berisik, entar ketauan.”
Gue langsung terdiam.
“Gue pulang dulu sayangggg.” Pamit’y yang tak gue hiraukan karena gue masih diem mematung.
Drett… Drett… Drettt…
HP gue bergetar.
Hey, ngelamun aja. Udah sana masuk.. :p
Gue celingak-celinguk. Baru sadar kalo Dion udah nggak ada di depan gue lagi.
Puas?!
Hanya pesan singkat itu yang gue kirim ke Dion.
Hahaha peace.. n_n
Jangan lupa besok gue jemput. Jangan bangun kesiangan..
See you tomorrow sayangggg… :-*
Gue menatap SMS yang tertera di layar HP gue. Senyum kecil terkembang ngeliat tingkah Dion.
***
Gue nggak pernah ngerti dengan semua yang udah terjadi.
Bahkan gue nggak pernah ngerti kenapa semua ini terjadi
Semua yang terjadi membuat gue semakin nggak ngerti
Kalo dipikir2 ini memang susah untuk dimengerti
Dan akhir’y gue pun tidak pernah ngerti
Gue mencoba membuat sebuah puisi. Bukan’y terdengar puitis malah terdengar seperti ocehan yang nggak jelas.
HP gue bergetar. Ngapin sih nih alien malam2 gini telepon? Kurang kerjaan banget. Batin gue.
“Woi, ngapain sih lo malem2 gini telepon? Ganggu aja!” tanpa basa-basi gue langsung ngebentak Dion.
“Ya Tuhan galak amat. Gue cuman mau ngasih tau lo. Buruan tidur, udah malam gini nggak usah ngelamun mikirin gue.”
Gue kaget setengah mampus.
“Yahh dia ngelamun beneran, woiii elo masih hidup kan, Tha?” di ujung telepon sana Dion berteriak.
“Gue nggak budek, Oon. Nggak usah pake teriak2 napa? Sakit kuping denger suara cempreng lo!” gue kaget dengar suara Dion.
“Hahaha… sorry deh gue kira elo ketiduran.”
Pake ketawa lagi.
“Gue emang mau tidur, elo’y aja tuh yang ganggu jam tidur gue.” Kata gue bohong.
“Ya udah tidur aja lo. Besok jangan lupa bangun pagi, jam setengah tujuh gue jemput.”
“Ngapain elo jemput gue? Gue bisa sendiri!” gue nolak Dion jemput gue.
“Lo kok gitu, Tha? Gue kan udah izin sama nyokap bokap lo.”
“Ya bodoh amat., Itu urusan lo. Gue nggak minta. Udah ah gue ngantuk!” kata gue nggak peduli.
“Dasar nggak di dunia nyata, di SMS, di telepon, sama aja. Ketus’y nggak ilang2. Ya udah tidur sono. Malem bawel.”
“Biarin! Malam alien jelek!” kata gue mengakhiri obrolan nggak penting.
Gue mendeka[ HP gue di dada.
Perasaan damai setelah mendengar suara Dion. Ya kayak’y gue emang udah jatuh cinya sama Dion.
Erwin maafin aku. Aku udah mengkhianati cinta kamu
“Tha kamu berhak ngedapetin kebahagiaan yang kamu mau. Kamu nggak boleh ngebuang semua yang bisa buat kamu seneng hanya karena aku.” Erwin membelai lembut rambut gue.
“Tapi, Win… aku nggak bisa liat kamu sedih hanya karena aku nerima cinta yang lain masuk ke hatiku, itu sama aja aku udah khianatin cinta kita.” Gue mulai meneteskan air mata.
“Inget janji kamu, Tha. Kamu akan selalu bahagia dengan ada atau tidak ada’y aku. Aku akan sedih kalao kamu kayak gini. Ngorbanin perasaanmu hanya karena kamu ngerasa bakal ngekhianatin cinta kita dengan cinta yang lain. Aku nggaj ngerasa dikhianatin, Tha. Aku akan bahagia kalo liat senyum kamu. Aku akan sedih kalo liat airmatamu.”
Gue memeluk Erwin.
“Kejarlah apa yang menjadi kebahagiaanmu. Kamu nggak usah khawatir bagaimana perasaanku. Aku tau kamu nggak akan menghapus aku dalam hidupmu, aku akan selalu ada di sini, di hatimu, saying.” Erwin mencium kening gue. Dan kemudian pergi.
***
Gue terbangun.
Mimpi.
Apa maksud semua ini?
Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Gue mencoba memejamkan mata kembali tapi nggak bisa.
Setelah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang membebani gue selama ini gue tertidur kembali sambil mendekap foto Erwin.
Makasih Win, atas cinta tulus kamu ke aku.
***
Tumben amat jam segini udah bangun, udah manti lagi.
“Wah udah rapi.” Mama kaget liat gue turun udah dalam keadaan rapi.
“Tumben amat.’ Tambah Papa.
“Ya dong, masa Ristha bangun’y siang mulu.” Kata gue bangga.
“Hahaha jadi aneh liat kamu jam segini udah bangun.” Kata nyokap.
“Ye… bukan’y senang anak’y udah berubah gini.” Kata gue duduk di kursi meja makan.
“Bukan’y nggak senang saying, cuman nggak biasa aja.” Kata Papa.
“Iya. Ristha tau kok.” Kata gue.
“Udah sarapan dulu, entar keburu Dion jemput.” Kata nyokap.
“Ristha berangkat sendiri aja ya, Ma.” Pinta gue.
“Kasihan Dion udah capek2 ke sini kamu’y malah berangkat sendiri.”
“Pagi om, tante.” Erh… orang’y udah nongol.
“Pagi nak Dion.” Jawab Mama Mama kompak.
“Pagi saying.” Dion manggil siapa tuh sayang2 segala. Gue? Nggak ngerasa tuh.
“Udah sarapam, nak Dion?” Tanya Mama.
“Belum, Tante.” Jawab’y sok polos.
“Yuk berangkat.” Ajak gue sengaja biar nggak usah sarapan di rumah gue tuh alien.
“Entar dulu kenapa? Masih lama juga kan masuk’y. Biar Dion sarapan dulu. Belum telat juga, kan?”
“Belum kok, Tante, masih lama juga masuk’y, jadi santai aja.”
Sialan!
Gue nggak terima ortu gue dikadalin sama nih alien.
“Ya udah, Om, Tante, Dion sama Ristha berangkat dulu.” Pinta’y setelah selesai sarapan.
“Mah, Pa, Ristha berangkat.” Kata gue lesu.
“Ati2 di jalan ya.” Kata Mama.
“Om titip Ristha,ya, dijaga. Kalo bandel lapor sama Om.”
“Siip Om!”
Gaya banget nih anak! Pikir gue. Lagak’y udah kayak bodyguard aja.
Sampe teras depan rumah, gue hanya manyun doing.
“Kok manyun gitu sih, sayang?” Dion nyolek dagu gue.
“Apa...?”
Belum juga sempat ngomong udah disamber.
“Anarkis’y entar aja ya, jangan di sini entar bonyok lo curiga.”
“Peduli amat gue, bukan urusan gue. Ya udah berangkat gih, males gue ngeladenin elo. Pagi2 gini lagi. Bikin capek!”
“Ya udah yuk.” Kata’y mengiyakan.
“Pake motor?” Tanya gue heran.
“Iya, lo pikir pake apa?”
“Pake sepeda.” Jawab gue.
“Nggak lah, kan biar keren dikit diliat ortu lo.”
“Emang penting?”
“Pentinglah. Biar sedikit meyakinkan.”
“Emang ortu gue bakal nilai dari apa yang elo bawa apa? Nggaklah, Oon! Elo pikir ortu gue matre?” kata gue nggak terima.
“Udah buruan naek! Gue nggak pernah berpikiran kayak yang lo pikir. Tenang aja.”
“Bagus deh kalo gitu. Sorry kalo gue salah ngomong.”
“Yups, santai aja lagi. Gue orang’y nggak pernah tersinggung kok.” Kata Dion.
“Nih pake helm’y.” Dion ngasih helm ke gue. “Udah siap kan?” tanya’y lagi.
“Ya udah.” Kata gue.
“Eh Yon, elo tumben nggak bawa sepeda ke sekolah?” Tanya gue lagi.
“Emang kenapa?” tanya’y balik.
“Nggak romantic kalo jemput gue pake motor.” Jawab gue ngasal.
“Mau romantic, sini nih.” Dion narik tangan gue dan melingkarkan’y di pinggang’y.
“Jangan dilepas, ya.” Kata’y lembut.
“Cie2 mesra banget, sih.” Celetuk temen gue waktu gue sampe sekolah diboncengi motor Dion.
“Cuit2… gossip baru.” Tambah Anis.
Gue dan Dion hanya bisa tersenyum malu.
Dion megang tangan gue menuju kelas.
“Wew pasangan baru. Cuit2… ehem2…” temen2 sekelas kompak banget ngeledekin gue sama Dion.
Gue sakit hati ketika melihat tatapan nanar Ryan. Cowok yang udah gue tolak cinta’y.
Gue mencona menjelaskan semua’y ke Ryan siang itu di taman sekolah.
“Maafin gue, Yan. Udah bikin lo kecewa. Gue hanya bisa nganggep lo temen. Nggak lebih. Hati gue udah terisi sama cinta yang lain.”
“Tapi kenapa, Tha?” Tanya Ryan.
“Suatu saat elo bakal ngerti, Yan.” Ucap gue sebelum meninggalkan’y.
***
“Elo dari mana aja sih, gue nyariin lo tau.” Dion nyamperin gue.
“Tadi abis ngobrol bentar sama Ryan.” Kata gue jujur.
“Elo ada hubungan apa sama Ryan?” tanya’y sinis.
“Nggak ada, cuman kok. Oh iya, lo nyariin gue kenapa?” Tanya gue.
“Nggak. Takut aja lo dianiaya sama cewek2 anarkis.” Kata’y masih terdengar sinis.
Apa Dion cemburu y ague ngobrol sama Ryan?
“Nggak kok, santai aja.” Jawab gue.
“Elo harus tetap bareng gue ke mana pun lo pergi, gue nggak mau lo kenapa2.” Kata2’y terlihat khawatir.
“Tapi gue baik2 aja, Yon. Gue nggak bisa ngarepin lo ada di sisi gue terus-menerus. Gue tau elo care sama gue, tapi gue nggak mau dibilang cewek yang lemah yang hanya mengandalkan lo. Gue bukan cewek yang kayak gitu.” Gue mencoba menjelaskan ke Dion.
“Iya gue care sama elo Tha, gue sayang sama lo!”
Gue kaget mendengar pernyataan Dion.
“Please Tha, gue nggak bisa lo giniin gue. Kenapa lo nggak pernah sadar dengan apa yang gue lakukan buat lo selama ini? Sekarang gue jujur sama lo. Selama ini gue mencoba nyari perhatian ke elo, gue mencoba peduli sama lo, gue mencoba nyari sesuatu yang lo suka. Ya mawar2 yang elo dapet itu dari gue. Gue yang selama ini selalu ada buat lo, Tha. Gue Cuma berusaha buat lo seneng walau lo selalu jutek dan marah sama gue.”
Gue terdiam sejenak.
“Kenapa lo baru bilang sekarang, Yon?” Tanya gue.
“Karen ague nggak bisa jujur dengan apa yang gue rasain ke elo Tha. Gue nggak tau sejak kapan rasa ini hadir di hati gue. Sekarang lo ngerti kan Tha kenapa gue kayak gini ke elo? Tha, elo mau gak jadi cewek gue benaran? Bukan bohongan kayak gini? Gue sakit Tha, kalo menjalanin status bohongan gini.” Dion membuat gue tercengang.
Gue tersadar kembali. Apa yang Dion rasa jug ague rasakan. Entah sejak kapan rasa itu mulai tumbuh.
Bohong banget kalo gue nggak suka sama Dion.
“Tha, kenapa lo diem aja? Kasih gue jawaban dong, Tha. Elo mau apa nggak?” Dion membuyarkan lamunan gue.
“Gue nggak bisa ngasih tau lo sekarang jawaban’y.”
“Trus kapan, Tha?” Dion terlihat kecewa.
“Sore ini jam 4, gue tunggu lo di taman kompleks rumah gue. Elo bakal tau jawaban’y di sana.” Gue meninggalkan Dion di koridor kelas.
***
Setelah kejadian itu gue sama Dion saling berdiam diri.
Gue sebenar’y pengen aja ngomong sama dia. Tapi sikap dingin’y terhadap gue membuat gue mengurungkan niat gue.
Dion masih diemin gue. Waktu nganter gue pulang ke rumah juga nggak ngomong apa2.
Lo bakal tau jawaban’y nanti, Yon. Batin gue.
Jam 4 sore gue udah sampe sana. Duduk di bangku taman di bawah langit sore.
Setengah jam berlalu, Dion nggak juga keliatan batang hidung’y. Apa dia lupa kalo gue meminta’y datang sore ini ke taman? Ah nggak mungkin dia lupa. Biasa’y aja selalu dia yang on time. Mungkin lagi di jalan. Pikir gue.
Lama gue menunggu Dion di sana. Mana nih taman udah makin sepi. Udah mulai gelap pula.
Gue tetap berusaha sabar nunggu sampai Dion dating. Sore itu hujan turun rintik2.
Hampir dua jam gue nungguin Dion. Hujan menjadi turun dengan deras’y.
Gue biarkan air hujan menyiram gue. Perlahan air mat ague jatuh.
Gue berteriak di bawah deras’y air hujan.
“Diooonn! Elo nggak tau apa yang gue rasain?1 Elo nggak pernah tau, Yon! Gue di sini rela nungguin lo. Gue rela kehujanan. Gue rela teriak di tengah lebat’y hujan meski lo nggak denger. Gue rela ngelakuin ini semua karena gue suka sama lo, Dioonn! Gue suka sama… elo…”
Gue terduduk lesu di rumput.
“Kenapa lo nggak dating, Yon…?”lkata gue lirih.
“Gue dating, Tha.”
Di balik deras’y hujan gue ngeliat sosok Dion. Gue berdiri dan berlari ke arah’y.
“Yon, gue mau jelasin semua’y.”
“Elo ini bego atau apa sih, Tha? Lo kenapa ujan2an gini? Kenapa nggak neduh?” Tanya Dion.
“Gue nungguin elo.” Jawab gue jujur.
“Iya gue tauy, tapi kenapa mesti ujan2an? Entar kalo lo sakit gimana?” Dion khawatir dengan gue.
“Gue mau ngejelasin…”
“Udah, elo nggak perlu ngejelasin apa2. Gue udah tau semua’y.” kata’y memotong omongan gue.
“Tadi sebelum gue ke sini, gue ke rumah lo dulu. Gue ngomong yang sebenar’y ke nyokap sama bokap lo tentang hubungan kita yang direkayasa. Ortu lo nggak marah atas kebohongan kita, mereka malah ngejelasin semua yang mau lo jelasin ke Gue. Tentang Erwin dan tentang lo.” Jelas’y ke gue.
“Sekarang yang gue mau tanyain, lo udah tau perasaan gue ke lo, gimana perasaan lo ke gue?” tanya’y.
“Tanpa mesti gue kasih tau, harus’y elo bisa nebak sendiri jawaban’y.” jawab gue singkat.
“Gue tau jawaban lo. Karena Erwin. Oke gue ngerti. Makasih buat semua’y.”
Gue benar2 kager denger kata2’y barusan.
Dion berbalik ninggalin gue, sebelum dia jauh gue lari ngejar dia.
“Masa lo nggak paham juga, sih? Oon banget. Ngapin cob ague bela2in ujan2an kayak gini kalo bukan buat elo? Gue suma sama lo… alien jelekkkk!” kata gue sambil memeluk tubuh’y dari belakang.
“Tapi bukan’y…”
“Erwin? Erwin itu masa lalu gue yang akan terus gue kenang, sedangkan elo adalah kebahagiaan gue saat ini.” Kata gue lagi.
“Jadi?”
“Gue mau jadi pacar lo. Tapi kali ini beneran, bukan bohongan kayak sebelum’y.”
“Elo… beneran?” tanya’y nggak percaya.
“Nggak. Gue bohong. Ya beneran lah, Oon.
“Sekarang kita resmi pacaran nih?” tanya’y lagi.
“Iya, alien jelekkk…!”
“Yes! Makasih monyet bawelku, sayang.” Dion memeluk gue erat.
Mungkin inilah yang disebut rahasia Tuhan. Dia mengirimkan cinta buat gue, yang gue nggak pernah tau jalan cerita’y. Seperti kisah cinta gue sama Dion. Dia mengirimkan Dion buat gue dengan cara’y yang unik.
END~
Apa Gaya bahasa yang di gunakan dalam novel ini?
BalasHapus